Pukul 8 malam (13 Februari) waktu Bangkok tiba-tiba HPku berdering tanda sms masuk. Oh dari Ibu, seperti biasa menanyakan kabarku, tentang thesisku, namun kali ini juga mengabarkan berita special yakni acara penting “mudun lemah” untuk cucu pertamanya tercinta. Emm tak terasa sudah 7 bulan usia keponakanku, Naya. Menurut tradisi kami sebagai orang Jawa, usia bayi 7 bulan selalu dirayakan dengan acara mudun lemah, terminologi dari mudun lemah sendiri menurut situs Ekologi Budaya sebagai berikut:
Mudun lemah, demikian orang Jawa menyebut tradisi tersebut. Sebuah tradisi yang dilakukan orang tua untuk mengenalkan anak tercintanya yang berusia tujuh bulan kepada bumi. Mengiringi itu, kedua orang tua berharap anaknya mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan.
Mudun lemah juga bisa diartikan bahwa di usia ini Naya sudah mulai belajar untuk berjalan. Serangkaian acara diselenggarakan di rumah kami, dan tentunya yang paling menarik perhatian tetangga khususnya anak-anak adalah acara tebar uang logam receh, atau kalau di tempat kami disebut “udik-udikan“. Meski cuman uang recehan yang tidak seberapa tapi justru itu yang menjadikan keakraban dan keramaian diantara tetangga. Oh iya tidak lupa juga bubur cendol yang selalu dibagikan setelah acara udik-udikan berlangsung. Pastinya meriah dan yang lebih penting adalah rasa syukur yang keluarga kami panjatkan kepada Allah dalam kemasan acara mudun lemah itu, selebihnya adalah harapan dan doa dari setiap orang agar keponakanku ini menjadi putri shalehah dambaan setiap orang tua. Amien.
Kurungan untuk Naya
Naya dan mamanya
Acara mudun lemah
Udik-udikan
Credit:
I would like to acknowledge Mr. Saiful Mujab for his kindness to provide me the pictures. Saiful Mujab is the owner of Gesank Printing, Pungkuran, Kaliwungu, Kendal. If you would like to married please order your wedding invitation card to him. The discount is available hehehe…
Aku Pindah Rumah
Setelah 5 bulan tinggal di student village AIT, sekarang aku harus pindah dormitory untuk ke 5 kalinya selama studi di Bangkok; pertama datang di Thailand aku tinggal di apartement Budha Bucha Road bersama mahasiswa dari Nepal, selanjutnya pindah ke Prachautit Road Soi 62 bersama teman-teman mahasiswa muslim Thai di KMUTT, karena rumah kontrakan kami dijual oleh pemiliknya maka kami kemudian pindah ke Prachautit Road Soi 65 dekat Masjid Istiqomah. Kepindahanku yang keempat kalinya adalah ke student village AIT, lalu karena mas Aan (room mateku) akan membawa keluarganya ke Bangkok, maka sekarang untuk kelima kalinya aku pindah ke Asian Games Village, Thammasat University.
Asian Games Village
Asian Games Village sejatinya adalah perkampungan atlet pada event Asian Games 1998, pada waktu itu Thailand menjadi tuan rumah dan Thammasat University juga mendapatkan kehormatan untuk menjadi tempat penyelenggaraan event akbar tersebut. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau fasilitas olahraga di TU sangat lengkap dan berstandart internasional. Setelah selesai penyelenggaraan Asian Games, perkampungan atlet tersebut dijadikan dormitory untuk mahasiswa TU, dari kejauhan dormitory ini terlihat seperti rumah susun hehehe, soalnya berderet-deret gedung 8 lantai. Tapi soal fasilitas, emm oke banget. Enjoy pokoknya tinggal di sana hehehe.

















March 5, 2009 at 1:47 am
Naya..imutt bgt..
boleh disun ngga??he..
Alhamdulillah,,dpt dorm yg lbh nyaman..
wa,,perkampungan atlet yak?
main badminton yuk..
hehe… ;D
March 5, 2009 at 5:31 pm
Selamat pindah kost…
Salam juga buat Syaiful Mujib, itupun kalau dianya kenal aku.
March 15, 2009 at 2:43 am
heheheheheheheheehhehehehehehehehehe
March 16, 2009 at 10:41 am
@ Pak Marsudi
Gak usah saya salamin orangnya udah nulis komentar dibawah njenengan Pak
@ Saif569
Piye kenal Pak Marsudi gak? hehehe
March 18, 2009 at 12:40 pm
nginceng blokmu yo….he..he..he..!!!
pak marsyudi sopo sih er???
koyone kok kenal, wongdi er???
May 15, 2009 at 8:11 pm
salam kenal dari kami anak2 kaliwungu
October 19, 2009 at 8:10 am
he…he..he
November 15, 2009 at 12:37 pm
[...] dormitory yang luar biasa besarnya sebagai warisan dari kegiatan ASIAN GAMES (baca di artikel saya sebelumnya), mayoritas mahasiswa TU tinggal di dormitory tersebut. Karna ada demand (baca: konsumen/mahasiswa) [...]