Teknik Undip “Melesat” Menuju Tahun Emas

Sebagai bagian dari warga Jawa Tengah adalah kebanggan tersendiri memiliki Universitas Diponegoro, kampus terbesar di Jawa Tengah. Barusan aku buka website Undip tertera peringatan 50 tahun fakultas Teknik Undip, wow 50 tahun adalah perjalanan yang panjang, wah selamat deh buat seluruh civitas akademika Teknik Undip.

Tercatat sudah ada 12 program studi di Teknik Undip, termasuk yang terbaru program studi sistem komputer. Mengkritisi perjalanan Undip sebagai kampus terbesar di Jawa Tengah ternyata belum bisa memainkan perananya secara significant di kancah bidang Engineering tingkat nasional, meski sudah menjadi kampus kategori the big 10 nasional tapi masih kalah jauh dibanding kampus provinsi sebelah, katakanlah Jawa Timur dengan Unibraw maupun ITS,  apalagi Jogjakarta yang dengan UGMnya, dan Jawa Barat dengan ITBnya. Bukan karena diriku non alumni Undip atau sebagai alumni UGM lantas mengatakan Teknik Undip masih kalah jauh, tapi kenyataan memang demikian.

Undip memang akhir-akhir ini ekspansi luar biasa besar-besaran, berbagai program studi baru mulai dibuka katakanlah di Teknik Undip ada Teknik Geologi, Geodesi, Perkapalan, dan yang terbaru Sistem Komputer. Terkadang saya heran dengan motivasi pembukaan besar-besaran itu, apakah untuk menjawab tantangan pasar atau hanya untuk mencari pangsa pasar (baca: mahasiswa) mengingat Undip sebentar lagi juga akan menyongsong BHMN.

Bidang Engineering adalah bidang yang punya capital cost yang tinggi, sebut saja pengadaan laboratorium sebagai main core dari aktivitas akademis, dan staff ahli (dosen). Hal ini berbeda dengan membuka program-program sosial seperti ekonomi atau sastra. Dalam setiap membuka program baru pastinya membutuhkan investasi yang luar biasa untuk mendongkrak kualitas lulusan atau kalau ingin pelan-pelan pastinya berimbas pada kualitas lulusan nantinya. Belum lagi kualitas dosen yang direkrut secara finansial saya yakin benar Undip belum mampu merekrut Doktor-doktor pada bidangnya, tapi masih berkutat pada lulusan S1 yang kemudian disekolahkan lagi. Padahal kualifikasi seorang dosen akan menentukan standart lulusan.

Pertanyaan yang besar bagi diri saya, padahal di kampus 3 besar Indonesia (UI, UGM dan ITB) minimal kualifikasi dosen adalah S2 bahkan S3. Tentu ini menyetarakan dengan kompetisi global, karena target Big Three ini memang tidak lagi mengincar pasar nasional tapi sudah bergeser ke pasar global. Sebagai contoh saja di kampus kedua saya (SIIT-TU) yang notabene baru berdiri awal tahun 90an semua dosennya berkualifikasi doktor, dan master hanya bisa menjadi instruktur atau supervisor lab. Nah Thailand saja sudah memulai mengembangkan kualifikasi SDMnya lantas kita kapan?

Membuka program studi baru menurut saya adalah bukan sebagai bagian dari menjawab tantangan menjadi universitas berskala internasional, tapi fokus dan mengambangkan apa yang dimilikinya secara maksimal adalah cara utama. Karena dengan memaksimalkan program-program yang sudah eksis dan kemudian mengambangkan jaringan penelitian inter-kampus di Indonesia menurut saya akan lebih efektif. Saya cenderung melihat kampus-kampus di Indonesia lebih banyak menumbuhkan egonya masing-masing dari pada saling bekerja sama meski memiliki tujuan yang sama.

50 tahun berkiprah dalam bidang Engineering semoga Undip bisa meberikan kontribusi lebih maksimal ke depan, sebagai salah satu warga Jateng saya mengharapkan kontribusi yang besar dari keberadaan kampus ini untuk kemajuan Jateng tercinta. Sekali lagi selamat untuk Teknik Undip.

2 Balasan ke Teknik Undip “Melesat” Menuju Tahun Emas

  1. sewa mobil mengatakan:

    sukses selalu

  2. bhayu mengatakan:

    Mas Ery, trimakasih untuk kritiknya terhadap Undip (kebetulan saya salah satu alumninya).
    Prodi2 baru yang dibuka Undip tentunya sudah dipertimbangkan masak2 akan manfaatnya bagi semua pihak.
    Contohnya untuk jurusan teknik geologi & geodesi, sekarang ini aktualnya kita memang masih kekurangan profesional yang mumpuni di bidang ini.
    Salah satunya untuk industri perminyakan yang perlu banyak ahli bidang ini untuk menambah lifting migas kita (kebetulan saya nyemplung di industri ini, sedikit banyak tahu soal kebutuhan tenaga kerjanya).
    Saya lihat respon dari pasar (industri) juga sangat mendukung, karena memang mengetahui bahwa output dari univ2 yang sudah lebih dulu ada juga terbatas jumlahnya.
    Misalnya Pertamina langsung menggelontorkan dana CSR-nya dengan membantu penyediaan sarana gedung perkuliahan yang memadai untuk jurusan ini.
    Mengenai jumlah dan kualitas dosen, pastinya saat awal pengajuan persyaratan sudah melewati persyaratan dari pemerintah (setidaknya untuk memenuhi minimum requirement).
    Soal sarana penunjang (lab), setahu saya di jurusan induknya (teknik sipil) juga sudah ada lab geologi sehingga modal awalnya sudah ada.
    Jadi menurut saya Mas Ery gak perlu terlalu “heran” dengan motivasi pembukaan prodi2 baru tsb di Undip.
    Anyway, keep writing & give contributing feedback to Undip, Mas.
    Toward education improvement in our beloved country.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: