Jakarta dan Saya

Siapa yang tidak tau kota Jakarta, ibu kota negara kita. Jutaan manusia tinggal dan menggantungkan hidup di sana, bercampur aduk dari berbagai suku dan budaya dari seluruh Indonesia. Masih, meski Jakarta telah padat, setiap tahun jutaan orang dengan berbagai skill dan keahlian, dengan berbagai level pendidikan, datang menambah beban kota Jakarta.  Ya, Jakarta menjanjikan banyak hal; uang, karier, kesenangan, dan juga gengsi. Ada banyak orang yang meraih kesuksesan dan impiannya di sana, tapi banyak juga orang yang kemudian “tersesat” dalam “janji manis” kota Jakarta. Oleh karenanya, tidak salah kalau banyak orang bilang “kejamnya Ibu kota (Jakarta-red) lebih  kejam dari pada Ibu tiri”. Hampir mayoritas kawan-kawan saya setelah menyelesaikan studi sarjana kemudian mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Tidak salah memang mereka merantau ke Jakarta, mereka datang bukan karna kemauan sendiri, tapi karna perusahaan yang merekrut mereka berada di Jakarta.

Bagi saya, Jakarta adalah “neraka” idealisme dan kenyamanan saya. Jakarta tidak seindah yang saya bayangkan. Bukan karna saya lama tinggal di negara orang kemudian saya menghujat ibu kota negara sendiri. Tidak, tapi sekedar membandingkan antara Jakarta dan Bangkok, sama-sama ibu kota negara berkembang, Jakarta memang lebih luas, tapi Bangkok lebih rapih dan tertib. Jakarta punya Bajai, Bangkok punya Tuk-tuk; Jakarta punya Busway, Bangkok cukup punya bis kota biasa yang nyamannya juga gak kalah sama Busway; Jakarta punya kali Ciliwung, Bangkok punya kali Chao Praya.

Tuk-tuk (kiri) Vs Bajai (kanan)

Orange Bus (kiri) Vs Trans Jakarta (kanan)

Sungai Chao Praya (kiri) Vs Sungai Ciliwung (kanan)

Itulah kemiripan antara dua kota, namun perlu ada catatan-catatan: Bis kota di Bangkok jangan pernah disamakan dengan Metromini Jakarta karna bis kota di Bangkok hanya berhenti di halte bus yang telah tersedia secara rapi, tidak di sembarang tempat, bersih, bebas rokok, dan ber-AC. Sepadan, sungai Chao Praya tidak sejorok kali Ciliwung yang ditumbuhi kawan-kawasan kumuh, sungai Chao Praya malah bagian dari objek wisata air di kota Bangkok, selain itu juga menjadi sarana transportasi air utama dalam kota. Jakarta memang sudah mempunyai taman publik, yakni Taman Menteng, itupun hanya satu-satunya. Sedangkan Bangkok mempunyai delapan taman publik, salah satunya yang terkenal adalah Lumphini Park. Secara umum, transportasi publik di Bangkok jauh lebih baik dari pada di Jakarta. Dahulu semasa pemerintahan Suharto, kita pernah berancang-ancang membangun monorel, mendahului Malaysia dan Thailand, namun kenyataan berbicara lain. Ketika Malaysia dan Thailand telah berhasil merealisasikan dan kita justru masih bertahan sekedar dalam taraf rencana.

Lumphini Park (kiri) Vs Menteng Park (kanan)

Subway dan Skytrain di Bangkok (kiri) Vs KRL dan “tugu” monorel di Jakarta (dua kanan)

Kalaupun boleh jujur tinggal di Bangkok saya merasa lebih aman dari pada tinggal di Jakarta. Bagaimana tidak, saya dan mungkin juga anda akan selalu waspada dan bercampur was-was ketika naik taksi di Jakarta, terutama ketika malam hari. Ada banyak berita yang menyebutkan telah terjadi perampokan pada penumpang taksi yang dilakukan oleh supir taksinya sendiri. Belum lagi penipuan billing taksi alias argo yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga harganya akan lebih mahal ketimbang harga normalnya. Begitu juga ketika anda terpaksa transit penerbangan malam hari di Soekarno-Hatta, bagi yang uangnya cekak ini tentu menjadi masalah karna tidur di bandara mesti juga selalu waspada dengan bagasi bawaan anda.

Selanjutnya saya ingin tidak ingin membicarakan masalah infrastruktur, tapi kondisi kehidupan Jakarta yang membuat saya “alergi”; kemacetan di mana-mana tak kenal waktu sehingga banyak orang yang menghabiskan waktunya dalam sehari di perjalanan,  asap rokok yang bertebaran di mana-mana tanpa mengenal situasi, dan orang-orang jalanan yang bertebaran di penjuru jalanan Jakarta. Jujur saya lebih nyaman tinggal di kampung halaman yang meski infratruktunya minim tapi suasananya nyaman dari pada tinggal di Jakarta yang “keras”. Itulah kenapa saya selalu “menghindari” Ibu kota🙂

11 Balasan ke Jakarta dan Saya

  1. Ayu mengatakan:

    ke Jogja saja..😉

  2. suci mengatakan:

    sips..like this..
    kota yang qhindari, kalau ada pilihan yang bagus kenapa pilih yang lebih jelek?!

  3. Ery Wijaya mengatakan:

    @Yuyun: Ke Kaliwungu ajah
    @Suci: haha betul2

  4. Nuring mengatakan:

    Tapi masih ada banjir dan macet juga to, meskipun nggak separah Jakarta hehehe. Plus anggota penjemput yang molor 3 jam nih. Kenangan lama hohoho.
    Ayo kapan bang Ery mampir Taipei, nanti nggak disuruh nunggu 3 jam deh.

  5. Ery Wijaya mengatakan:

    Hahaha…masih inget juga wkwkwk…
    Nanti ring, klo jadi ke Jepun aku mampir ke Taipe😀

  6. marsudiyanto mengatakan:

    Daerah sing koyo Pasar Sore Kaliwungu ono opo ora Err???

  7. Ery Wijaya mengatakan:

    Pak Mars: daerah mana dulu Pak?Bangkok apa Jakarta?

  8. bank_al mengatakan:

    Jangan bandingkan negara lain dengan Jakarta/Indonesia dalam soal keamanan. Di jakarta memang nggak boleh meleng dikit dan dalam kondisi waspada. Entah apa sebabnya, penjahat terlalu banyak di kota ini,

  9. Ayu mengatakan:

    ke kaliwungu?ikuuttt..hehehe,,🙂

  10. andhy mengatakan:

    bangkok juga macet banget kali maaass….😦

  11. Ery Wijaya mengatakan:

    Bangkok macet kan rapi, sopan, gak kyk di Jakarta, klo macet justru tambah ruwet, mana suara klakson bersaut2an pula hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: