Saatnya Berlibur: Kanchanaburi Trip

Tahun baru ala Thai, atau seringkali disebut Songkran, di kalender nasional ditulis sebagai tanggal merah alias libur nasional selama tiga hari berturut-turut. Pada tahun ini kebetulan jatuh pada tanggal 13, 14 dan 15 April. Bagi orang Thai, songkran adalah waktu yang tepat untuk mudik ke kampung halaman dan merayakannya bersama sanak famili. Kemudian mereka merayakan songkran dengan festival air, biasanya tradisi ini dilakukan dengen memandikan patung Budha mereka, lalu kemudian dilanjutkan untuk menyemprot air satu sama lain. Bagi saya dan juga mahasiswa-mahasiswa Indonesia di AIT (Permitha-AIT/Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand-chapter AIT), liburan songkran adalah time for holiday!! Kami memutuskan untuk traveling selama dua hari ke Kanchanaburi, salah satu daerah tujuan wisata di Thailand, letaknya sekitar 150 km sebelah barat daya kota Bangkok.

Bangkok-Kanchanaburi

Rombongan Permitha-AIT

Tanggal 13 April pukul 7.30 pagi, sekitar 27 orang berangkat ke Kanchanaburi dengan menggunakan 2 buah Van yang kami sewa. Perjalanan dari Bangkok ke Kanchanaburi memakan waktu sekitar 3,5 jam. Sesampai di Kanchanaburi kami langsung menuju hotel yang sebelumnya telah kami pesan by phone, hotel itu terletak di sekitar alur sungai River Kwai. Sengaja kami memilih hotel tersebut karna lokasinya strategis untuk menjangkau berbagai objek wisata di Kanchanaburi dan juga sangat dekat dengan jembatan rel kereta api yang fenomenal (bagi negara barat) River Kwai yang konon dibangun oleh tentara kolonial Jepang menggunakan sistem kerja Romusha dengan tenaga kerja tentara sekutu yang menjadi tawanan perang, selain itu tentu faktor biaya sewa kamar hotel yang murah menjadi pertimbangan utama😀 maklum mahasiswa. Setelah beristirahat sejenak dan meletakkan barang bawaan, kami bergegas menuju stasiun kereta kuno River Kwai untuk menikmati perjalanan kereta kuno menyusuri jalur rel kereta berdarah ini menuju stasiun Namtok. Sembari menanti kereta kuno yang akan kami gunakan datang, kamipun menikmati pemandangan di sekitar jembatan River Kwai, konon kabarnya pembangunan jembatan itu menggunakan besi yang di datangkan dari Indonesia, tepatnya dari Kulon Progo, Jogjakarta.

River Kwai Bridge

Memori tentara Amerika

Kereta kuno melintasi River Kwai Bridge

Setelah puas menikmati perjalanan dengen kereta kuno, traveling selanjutnya adalah ke Hellfire Pass memorial museum. Di musium ini kita akan disajikan video cerita kekejaman sistem kerja Romusha dalam proyek pengerjaan rel kereta api sepanjang 450 km  menembus hutan, bukit-bukit dan lembah hingga ke perbatasan Myanmar, proyek ini diselesaikan hanya dalam hitungan beberapa bulan saja. Rel kereta ini merupakan bagian dari strategi Jepang melawan ekspansi tentara Sekutu yang akan masuk ke wilayah Asia Tenggara, dengan menggunakan kereta api maka suplai logistik perang mereka akan tercukupi, lebih aman dan tentu saja lebih cepat dari pada melalui jalur laut. Musium ini juga memiliki area terbuka, yang disebut sebagai Hellfire pass, di mana ketika itu para tawanan perang dari pihak sekutu harus membuat lorong untuk jalur kereta api dengan cara menghancurkan sisi bukit, pekerjaannya pun dilakukan secara manual dengan  palu dan linggis. Para tawanan dipaksa untuk bekerja 15-18 jam perhari dengan suplai makanan hanya berupa nasi putih dan sayur yang hanya diberi bumbu garam. Akibatnya ribuan tawanan perang meregang nyawa selama pengerjaan proyek monumental ini. Untuk menyelesaikan proyek ini secara keseluruhan, akhirnya Jepang membawa beberapa pekerja yang sengaja di datangkan dari beberapa negara jajahannya, seperti Indonesia dan India. Setelah puas menghayati Hellfire pass, perjalanan kami lanjutkan ke National Park dan Saiyoke Yai Waterfall. Hanya sebentar kami di sini karna hari keburu menjelang gelap, sehingga tidak kondusif untuk menikmati wisata air ini.

Hellfire Pass

National Park dan Saiyoke view

Unique boot di Saiyoke

Di hari kedua, kami mengunjungi Gowa Lawa (Lawa Cave), kesan pertama kali ketika masuk gowa ini adalah tidak menarik sama sekali😀 tapi ketika kami menulusuri lorong gowa lebih dalam, ternyata mulai terlihat keindahan stalakmit dan stalaktit yang terbentuk ribuan tahun yang lalu, ruangan gowapun terlihat sangat luas dan lorong yang ada begitu memanjang. Meskipun suhu udaranya dingin namun semua pengunjung dipastikan akan merasa bagai sedang mandi sauna🙂 Hal ini dikarenakan suplai oksigen di dalam gowa yang terbatas menjadikan tubuh kita bernapas agak ekstra.

Stalakmit dan Stalaktit di gowa lawa

Setelah menikmati sauna di Gowa Lawa, liburan kami berlanjut ke Erawan National Park, di sini ada tujuh air terjun kecil yang berurut-urutan. Karna kebetulan kami berlibur pas waktu Songkran, jadi ada banyak pengunjung, khususnya orang Thai yang mandi di bawah air terjun. Tidak ketinggalan akhirnya kamipun ikut-ikutan tertarik untuk bergabung dengan mereka hehehe..

Salah satu waterfall di Erawan National Park

Kunjungan terakhir kami adalah ke Srinakarin Dam, dam yang dibuat untuk membendung aliran Kwai Yai River, dan sekaligus untuk memproduksi listrik. Di sini kami menikmati sunset dengan pemandangan sekitar bendungan yang indah. Selesai dari Srinakarin dam, kami langsung melakukan perjalanan pulang ke kampus kami tercinta, Asian Institute of Technology.

Srinakarin Hydro Power Plant

Beautiful sunset…SubhanaAllah

Liburan yang menyenangkan, sayangnya hanya dua hari saja, karna masih ada banyak tempat yang belum sempat kami singgahi. Salah satunya adalah Tiger Temple yang terkenal itu, tempat di mana para biksu melakukan konservasi terhadap harimau Thailand, beberapa harimau yang jinakpun dapat berinteraksi dengan pengunjung. Harga tiket masuknya memang mahal, tapi itu didedikasikan sepenuhnya untuk si harimau sendiri.

7 Balasan ke Saatnya Berlibur: Kanchanaburi Trip

  1. Adinda mengatakan:

    wah, yang baru trip mana oleh2nya😉 hehe

  2. Ery Wijaya mengatakan:

    Lha itu oleh2nya, foto2😀

  3. syamsiro mengatakan:

    wah asyik juga ya tempatnya….

  4. Ery Wijaya mengatakan:

    Wah asyik banget mas Syam….mari mampir ke Thailand😀

  5. didi mengatakan:

    foto penunjuk arah d National Park kok di-krop ya,. ahaha,.

  6. Ery Wijaya mengatakan:

    wahahaha..iyo, soale kurang sip fotografere :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: