Penguasa-Penguasa, (jangan) Beri Hamba Uang!!!

Pesta demokrasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di kampung halaman saya baru saja selesai. Tentu yang menang cuman satu peserta, sedangkan yang kalah ada 4 peserta, karena total kontestan  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kali ini ada 5 peserta. Saya tidak perlu menyebutkan siapa kandidat-kandidatnya dan siapa yang menang, karena tulisan saya ini hanya akan menyorot tentang budaya politik uang atau bahasa kerennya disebut money politics. Budaya menggunakan uang sebagai “senjata” dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia bukanlah hal yg susah dicari contoh dan buktinya.  Yang saya maksud di sini bukanlah uang sebagai alat untuk perdagangan atau pertukaran uang-barang atau uang-jasa, tapi uang sebagai alat untuk suap-menyuap, media penggelapan dan pencucian otak.

Membaca pernyataan Prof. Dr. I Wayan Windia dari Universitas Udayana di media cetak Kompas, tentang hasil penelitian beliau terhadap jual beli suara dalam Pilkada, membuat hati saya miris. Betapa bobroknya nurani bangsa kita ini, uang telah menjadi raja dalam sistem perpolitikan kita. Siapa yang mampu menggelontorkan uang yang banyak kepada rakyat, dialah sang pemenangnya. Prof. Windia menemukan bahwa money politics merupakan sebuah perwujudan demand-supply antara rakyat dan sang penguasa. Rakyat telah tidak sungkan lagi untuk meminta uang atau sumbangan kepada para kandidat penguasa yang berkampanye di tempatnya karena rakyat tau bahwa para penguasa yang terpilih nanti pasti juga akan mendapatkan kekayaan yang melimpah dari kursi kekuasaannya, entah mereka tau itu uang hasil korupsi atau tidak, mereka tidak perduli. Sementara bagi kandidat penguasa, mereka merasa butuh menggelontorkan uang untuk memenuhi demand yang terjadi di masyarakat. Ujung-ujungnya  ketika mereka terpilih akan melakukan korupsi untuk mengembalikan uang tersebut.

Ada juga sebagian kalangan yang berpikiran pragmatis; ketika ada kandidat penguasa yang mencoba membeli suara, dia mau menerima uangnya,  tapi soal pilih memilih, itu urusan nanti. Sekilas hal ini terlihat bahwa ada sebagian masyarakat yang mencoba untuk mensucikan diri dari jual beli suara. Tapi dengan menerima uang dari kandidat, sama saja itu artinya mengguyur diri sendiri dengan dosa. Karena niat awal dari si pemberi adalah untuk membeli suara anda, baik rakyat memilih dia atau tidak, ketika dia terpilih pastinya akan berusaha mengembalikan uang yang telah dia sebarkan kepada rakyatnya saat musim kampanye.

Butuh sebuah langkah revolusioner untuk memerangi segala praktek politik uang. Sebagai negara yang mayoritas memeluk agama Islam, jelas sudah bahwa Allah dalam surat Al Baqarah ayat 188 telah melarang segala praktek korupsi dan memakan harta yang bukan merupakan hak kita:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: And do not swallow up your property among yourselves by false means, neither seek to gain access thereby to the judges, so that you may swallow up a part of the property of men wrongfully while you know (Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui), [Al-Baqarah : 188]

Jelas di situ dinyatakan oleh Allah bahwa kita tidak diperkenankan memakan harta yang batil, dalam hal ini uang yang diperoleh dari pemberian kandidat penguasa adalah uang yang batil karena niat si pemberi ingin mendapatkan suara dari orang yang diberi uang. Kemudian Allah memperjelas bahwa janganlah kita berusaha menghalalkan uang tersebut meskipun melalui sebuah proses pengadilan.

Perlu sebuah sistem politik yang lebih cantik, renungan yang tajam dan juga pemotongan mental generasi secara fundamental untuk menyembuhkan “penyakit” politik uang di negara kita. Sistem politik yang ada saat ini justru menyuburkan praktek korupsi dan juga mendorong munculnya raja-raja kecil di daerah, yang kemudian bisa sewenang-wenang mempermainkan uang rakyat. Kalau begini terus, sampai kapan negara kita akan maju? atau para generasi tua kita saat ini memang hanya berharap bahwa Indonesia akan selalu jalan di tempat? Wallahualam.

Sambil duduk bersedih di kursi kerja, saya mendengarkan dengan seksama lagu milik Iwan Fals yang berjudul Pesawat Tempurku, tepat di bagian Reff ingin saya gubah menjadi sebagai berikut:

Penguasa penguasa
Jangan Berilah hambamu uang
Jangan Beri hamba uang!
Jangan Beri hamba uang!
Jangan Beri hamba uang!
Jangan Beri hamba uang!

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ‌[2-188]
And do not swallow up your property among yourselves by false means, neither seek to gain access thereby to the judges, so that you may swallow up a part of the property of men wrongfully while you know.

﴿188﴾

6 Balasan ke Penguasa-Penguasa, (jangan) Beri Hamba Uang!!!

  1. ajiz mengatakan:

    aku jadi ingat sms tmanku kemaren ‘ pilihannya g rame coz g da uang nya’

  2. alumni darul amanah mengatakan:

    waduch… baca artikel sampean mo ketawa aja nich mas…! membayangkan betapa kotornya dunia politik jaman sekarang.🙂🙂🙂

  3. marsudiyanto mengatakan:

    Kowe nyoblos po ora Err

  4. Ery Wijaya mengatakan:

    @Ajiz: hehe ya begitulah realitanya mas, ada demand-supply
    @Alumni Darul Amanah: yang kotor itu orang2 yang bermain politik
    @Pak Mars: yo jelaslah Pak Mars..

  5. amalia U. Bis mengatakan:

    sayangnya,banyak orang hanya menganalisis melalui satu sisi saja,”politik”, padahal,ada sisi lain yang lebih dominan, yaitu sisi masyarakatnya sendiri. saya pun juga menyaksijan sendiri, bagaimana masyarakat dengan gamblangnya bernincang-bincang mengenai calon pemimpin mereka.semisal “dikasih berapa ama yang itu yang ini???” “aku dikasih si itu segini” “wah, kok dikit banget toh, aku dikasih segini ama yang itu loh ya.. sana minta ama koordinator RT nya” keadaan seperti itu menurut saya justru “memaksa” para kandidat untuk melakukan praktik politik uang, dan jika diteliti lebih luas, sifat materialistis para masyarakat Indonesia tidak lepas dari pengaruh barat yang menggaung-gaungkan HAM serta semangat ke-libera-an. dan yang perlu diperhatikan jangan hanya tentang politik -yang memang salah-, tapi juga perlu ada kesadaran dari masyarakat sendiri.itu pendapat saya.

  6. Ery Wijaya mengatakan:

    Mbak Amalia, ya begitu realitasnya, disitu saya juga sudah menyitir penelitian dari Prof. Windia, bahwa politik uang itu terjadi karena memang ada demand dari masyarakat dan juga ada supply dari para kandidat, jadi dua2nya memang bermain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: