Listrik Gratis Untuk Rakyat Miskin, Kenapa Tidak?

Direktur Utama PT. Perusahaan Listrik Negara PLN), Dahlan Iskan, melemparkan ide tentang penggratisan listrik bagi warga miskin, yakni warga yang menginstall listrik di rumahnya dengan daya sebesar 450 VA.  Ada 20 juta rumah tangga di Indonesia yang berlangganan listrik dari PLN dengan daya tersebut. Menggratiskan 20 juta pelanggan listrik dan kemudian memberlakukan tarif dasar listrik (TDL) sesuai dengan harga keekonomiannya bagi sektor lain. Menurut hitung-hitungan bos PLN tersebut, dengan menggratiskan listrik bagi rakyat miskin maka akan terjadi kehilangan pendapatan PLN sebesar 1.5 triliun. Namun, dengan menerapkan listrik sesuai dengan harga keekonomiannya akan menjadikan pemerintah tidak lagi perlu mensubsidi PLN, dan bahkan pendapatan PLN akan naik menjadi 30 triliun.

Bagi saya ini ide yang brilian. Bagaimana tidak, selama ini pemerintah menggelontorkan triliunan uang untuk subisdi listrik hanya dinikmati oleh kalangan yang berduit saja, yang semestinya mereka mampu untuk membayar listrik sesuai dengan harga keekonomiannya. Lagi pula siapa penikmat listrik terbesar di negeri ini di sektor rumah tangga? bukanlah rakyat kecil dengan saya 450 VA, tapi justru para orang-orang kaya yang memiliki listrik diatas daya 2200VA yang banyak mengkonsumsi listrik. Mereka memiliki AC, Penghangat Air dan berbagai peralatan listrik yang bekerja untuk membuat hidup mereka nyaman, dan tentunya mengkonsumsi listrik yang luar biasa banyak. Tapi kenapa justru pemerintah dan DPR memberikan keistimewaan bagi orang yang semestinya tidak perlu dikasihani?

Ide Dirut PLN tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai institusi. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menganggap bahwa ide itu akan mendorong pemborosan bagi konsumen. Bagi saya pernyataan dari YLKI justru sebuah lelucon, bagaimana mungkin dengan daya 450 VA bisa dikatakan pemborosan listrik? bisa apa dengan daya 450 VA? alat listrik apa saja yang bisa aktif secara bersamaan dengan  daya 450 VA? jangankan berharap bisa melakukan pemborosan, lha wong pakai setrika dan nonton TV bersamaan saja mungkin langsung njeglek listriknya. Apakah YLKI tidak pernah melihat konsumsi listrik perumahan-perumahan mewah? hal yang sangat kontradiksi bahwa orang-orang kaya adalah biasanya orang yang dengan pendidikan tinggi, dan orang yang berpendidikan tinggi semestinya juga orang yang lebih aware dengan penghematan listrik, karena mereka tau bagaimana listrik itu diproduksi. Namun, orang-orang yang berpendidikan itu pula rata-rata memiliki penghasilan di atas normal. Sehingga menggunakan listrik sebesar apapun mereka akan mampu membayarnya, mereka bisa menggunakan AC sesuka mereka, menggunakan penghangat air ketika mandi, menonton TV dengan home theater, dsbnya. Nah pertanyaannya sekarang (lagi-lagi) kenapa mereka mesti disubsidi?

Setali tiga uang, DPR yang konon katanya merupakan perwakilan rakyat justru melempem, malah mengatakan bawah ide penggratisan listrik bagi rakyat kecil akan membuat rakyat malas bekerja. Lha bukankah justru para anggota dewan yang terhormat yang terkenal malas, mereka pula lah yang mayoritas menikmati subsidi listrik berlebih-lebihan dari pemerintah.

Sebenarnya kita juga bisa meniru negara tetangga dalam pemberian subsidi listrik yang tepat sasaran, semisal negara Thailand. Negara gajah putih ini menggratiskan pembayaran listrik bagi rakyatnya jika pemakaian listrik perbulannya tidak lebih dari 80 kWh. Jika pemakaian listrik antara 80-150 kWh setiap bulan maka akan dikenakan diskon tarif sebesar 50%.  Persyaratan untuk mendapatkan penggratisan/pendiskonan tarif listrik tersebut adalah hanya  berlaku bagi pelanggan listrik dengan daya terpasang 380VA, pelanggan kelas ini jelas pasti merupakan rakyat miskin. Sistem ini selain menempatkan subsidi tepat pada sasarannya juga akan membantu pemerintah dalam menggerakkan program penghematan listrik.

Apapun sistem yang kelak diambil oleh pemerintah dan DPR dalam memformulasi tarif dasar listrik (TDL), saya berharap bahwa TDL yang baru akan efektif mengurangi pemborosan listrik di semua sektor, dan menghilangkan subsidi bagi orang kaya serta menyalurkan subsidi pada pihak yang tepat, yakni rakyat miskin. Menurut hemat saya, kenaikan TDL pada harga keekonomisannya (Rp 1,000/kWh) adalah langkah yang sangat tepat dan tidak bisa ditunda-tunda lagi aplikasinya, terutama di kalangan rumah tangga kaya. Sedangkan bagi rakyat kecil, pemberian subsidi/penggratisan listrik adalah mutlak diberlakukan, mengingat rasio elektrifikasi di Indonesia yang masih sangat rendah (65%), meski kita telah merdeka lebih dari 60 tahun yang lalu. Perbaikan sistem tarif kelistrikan nasional akan membantu cerahnya iklim berinvestasi di bidang kelistrikan dan akan meningkatkan rasio masyarakat kita untuk menikmati aliran listrik. Pada akhirnya dengan dinikmatinya listrik oleh seluruh rakyat Indonesia akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita.

4 Balasan ke Listrik Gratis Untuk Rakyat Miskin, Kenapa Tidak?

  1. annes mengatakan:

    Ide yang brilian, tetapi kalo dari saya adalah kita harus merubah gaya konsumsi energi, baik dari kalangan atas hingga bawah itu terutama, ini adalah satu langkah yang baik…

  2. beni mengatakan:

    setuju… orang kaya memang musti lebih bijak, sehingga tidak perlu disubsidi.. rakyat yg <= 900W saja yg disubsidi.. tapi dengan kuota.. misal kuota per bulan 50kWh.. selama pemakaian <50 kWh, gratis (JUGA tanpa abondemen)… kalau lebih baru bayar…
    begitu….

  3. Aan mengatakan:

    Menurutku ide itu masih susah untuk di jalankan. sekarang aja subsidi listrik masih membengkak apalagi di gratiskan tambah bangkrut kali….

  4. obat vitalitas mengatakan:

    kalo rakyat kecil disuruh hemat, tapi kalo rakyat2 yang penguasa dan berduit boro2 mao hemat, sudah nasib jadi orang kecil..
    salam kenal Sis,
    wasalam obat vitalitas cekidot😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: