Bom dari Kebijakan Energi Itu Bernama Tabung Gas 3kg

Berita kebakaran yang disebabkan oleh ledakan tabung LPG 3 kg akhir-akhir ini marak di semua media massa  Indonesia. Tidak hanya kerugian materiil miliyaran rupiah, namun juga korban jiwa. Sejak program  konversi gas digulirkan, sudah ada hampir 80 orang yang menjadi korban, diantaranya 27 orang meninggal dunia akibat ledakan tersebut (Kompas, 4 Juni 2010) . Ironis memang, tabung LPG 3 kg ini adalah program pemerintah yang telah dicanangkan sejak tahun 2007 untuk mengurangi ketergantungan masyarakat akan penggunaan minyak tanah. Dengan adanya program konversi ini, pemerintah  berharap dapat menghemat  APBN hingga 20 triliun rupiah akibat dari berkurangnya subsidi untuk minyak tanah.

LPG atau Liquid Petroleum Gas sejatinya adalah hasil pengolahan dari gas alam dan proses pengilangan minyak. LPG ini memiliki kandungan kimia terbanyak berupa Propana, disamping campuran lain yakni Butana. Karena merupakan gas yang telah dikompresi dengan tekanan 4-9 kg/cm2, maka LPG berbentuk cair.  LPG memiliki heating value yang tinggi, perbandingannya adalah 1 liter minyak tanah setara dengan 0,57 kg LPG. Jika terjadi kebocoran, LPG akan menguap di udara dan kemudian bercampur dengan oksigen dan membentuk campuran yang mudah terbakar yang disebut explosive mixture. Kadar LPG sebesar 5% volume dengan udara sudah cukup untuk menimbulkan peledakan dahyat. Untuk terjadinya kebakaran atau ledakan, diperlukan sumber panas atau api yang dapat berasal dari api terbuka, kompor, benda panas atau percikan listrik.

Namun, LPG memiliki karakteristik yang unik agar pengguna dapat mengetahui ketika terjadi kebocoran gas. Ya, ketika bercampur dengan udara, gas LPG  tercium seperti bau busuk. Ketika pengguna mencium bau ini, maka jangan pernah menyalakan api atau menyalakan peralatan elektronik. Biarkan udara segar masuk atau bawa tabung LPG ke ruangan terbuka. Kemudian periksa apakah terjadi kebocoran tabung atau  selang, atau terjadi kesalahan pemasangan regulator. Cara yang mudah untuk memastikan apakah tabung bocor atau tidak adalah dengan mengujinya ke dalam kolam air,  atau meneteskan air sabun pada tabung, jika terjadi buih maka dipastikan bahwa tabung itu bocor.

Kebijakan Energi Nasional

Boleh dikatakan bahwa program konversi minyak tanah ke gas adalah bagian dari upaya pemerintah untuk meminimalkan penggunaan minyak bumi dalam bauran energi nasional. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 5 tahun 2006, pemerintah menargetkan agar di tahun 2025 penggunaan minyak bumi secara nasional hanya akan menjadi 20% dari total bauran energi primer. Porsi mayoritas energi primer diproyeksikan akan diisi oleh batubara dan gas bumi.

Target bauran energi nasional 2025

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kandungan batubara dan gas alam kita dirasa akan sangat cukup untuk menyuplai kebutuhan energi nasional. Kandungan batubara kita bahkan cukup untuk 150 tahun mendatang, sedangkan kandungan gas alam diperkirakan dapat dimanfaatkan hingga 60 tahun ke depan. Sementara itu, sejak tahun 2004 negara kita telah menjadi net oil importer, akibat konsumsi minyak bumi yang lebih besar dari pada produksi minyak domestik kita. Sehingga negara tidak dapat mengelak untuk tidak melakukan impor minyak agar kebutuhan di dalam negeri dapat terpenuhi. Padahal kondisi geopolitik dan ekonomi di dunia saat ini mendorong harga minyak bumi  naik menjadi mendekati 100 USD/barrel, bahkan mungkin akan lebih tinggi. Hal ini menjadikan beban subsidi APBN untuk sektor ini menjadi semakin besar dari tahun ke tahun. Oleh karenanya kebijakan untuk mengurangi konsumsi minyak bumi dan mengalihkan ke sumber energi yang abundant di dalam negeri adalah mutlak di perlukan. Sehingga, jatah subsidi pada minyak dapat dialihkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sensitivitas Sebuah Kebijakan

Pengaplikasian sebuah kebijakan sudah semestinya diiringi oleh adanya infrastruktur yang memang sudah ready untuk menghantarkan kebijakan tersebut menjadi sebuah kebijakan yang pro-rakyat dan akan memakmurkan rakyatnya. Akan tetapi seperti biasa, bangsa kita adalah bangsa yang suka dengan hal-hal yang instant, padahal tidak semua yang instant itu baik untuk “kesehatan”. Kebijakan program konversi LPG sebagai sebuah program yang spektakuler semestinya tidak perlu dilakukan dengan buru-buru. Pemerintah perlu melakukan pengkajian yang mendalam terhadap infrastruktur yang akan digunakan dalam mengantarkan kesuksesan kebijakan tersebut.

Pemerintah lalai untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia agar friendly dalam menggunakan tabung LPG. Ada banyak kasus yang terjadi dalam proses konversi LPG ini. Mulai dari ketidakadanya edukasi tentang penggunaan tabung LPG yang benar-benar menyeluruh dan menyentuh masyarakat kecil, hingga tabung gas, regulator dan pipa yang banyak tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga mudah terjadi kebocoran dan rusak, akibatnya kasus ledakan tabung PLG 3 kg terus menerus terjadi di masyarakat kita. Kesalahan mungkin terjadi dari dua hal tersebut: human error dan peralatan yang tidak memenuhi syarat.

Yang lebih menyakitkan bagi masyarakat kita adalah adanya aroma korupsi dari proses pengadaan tabung gas dan regulator. Program yang memakan dana rakyat puluhan triliun ini terindikasi terjadi korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kita yang mempunyai kewenangan untuk menjalankan program ini. Jauh-jauh hari sudah banyak pihak yang mencurigai tabung gas yang diberikan ke masyarakat tidak memenuhi kaidah keselamatan, dan terbukti ada banyak tabung gas yang rusah. Di daerah saya, Kendal, ditemukan 13 ribu tabung gas 3 kg yang tidak layak digunakan (Suara Merdeka, 15 Juli 2010). Padahal proyek ini baru berjalan 3 tahun.

Kalau program ini terus menerus dijalankan tanpa adanya perbaikan yang menyeluruh. Maka saya optimis, masyarakat akan antipati terhadap program yang semestinya dihadirkan untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia ini. Bagaimana tidak, demi penghematan subsidi APBN, bisa-bisa nyawa manusia Indonesia perlu dikorbankan akibat tidak adanya sensitivitas atas kebijakan yang akan diberlakukan. Semurah itukah harga nyawa di negara kita?

Peraturan Pemerintah no 5 tahun 2006

2 Balasan ke Bom dari Kebijakan Energi Itu Bernama Tabung Gas 3kg

  1. LPG GAS mengatakan:

    thanks for information…

  2. maulanarobby mengatakan:

    berguna sekali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: