Si Tukang Gagal

Mungkin Anda berpikir bahwa saya termasuk orang yang dikaruniai keberuntungan sehingga bisa dengan mulus mendapatkan apa yang saya inginkan, pekerjaan yang layak (meski belum mapan), studi hingga tingkat tertinggi di usia yang masih sangat muda, bisa melihat cakrawala negara tetangga dan ketampanan wajah yang luar biasa! (yang terakhir ini saya bohong :D).  Jika Anda termasuk orang yang berpikir bahwa apa yang saya raih saat ini terlihat smooth dan lancar, saya pastikan bahwa Anda salah besar!

Mari saya ceritakan berbagai kegagalan saya mulai dari jenjang SMP. Dahulu saya sejujurnya bukan orang yang ambisius dengan prestasi. Ketika lulus SD orang tua sebenarnya menginginkan saya untuk bersekolah di SMP paling favorit di Kabupaten saya. NEM saya waktu itu lebih dari cukup, maklum saya dulu peraih ranking ke-dua NEM tertinggi di kecamatan. Tapi saya berkeinginan lain, ingin bersekolah di dekat rumah saja karena kebanyakan teman saya akan melanjutkan sekolah di situ. Menjelang kelulusan dari SMP, ternyata saya berubah menjadi orang yang ambisius. Berawal dari keisengan untuk mendaftar SMA Taruna Nusantara (SMA TN), berbuah menjadi sebuah keseriusan dan ambisi. Saya  mati-matian belajar keras untuk bisa lolos semua ujian seleksi untuk masuk SMA TN, seleksi demi seleksi akhirnya terlewati, mimpi saya makin mendekati nyata! Tapi apa daya, ternyata Allah berkehendak lain, saya gagal…..betapa malunya saya dan bercampur dengan kesedihan waktu itu. Saya terlalu angkuh, ternyata di luar sana ada banyak ribuan orang Indonesia yang berotak jauh lebih brilian dibanding saya. Saya benar-benar kalah dan gagal…tapi menjadi sadar dengan kemampuan saya.

Setelah kegagalan itu, saya menjadi pribadi yang “agak” low profile. Akhirnya saya masuk ke SMA paling favorit di Kabupaten saya dengan tanpa punya target apa-apa. Saya jalani SMA dengan hal-hal yang hambar, pukul 6.30 berangkat dari rumah naik sepeda hingga ke jalan utama, lalu diteruskan naik angkutan umum. Sepulang sekolah kalau tidak ada ekstrakurikuler Pecinta Alam ya saya langsung pulang ke rumah, karena saya mesti bersekolah lagi di sore hari. Saya bukan orang yang bodoh-bodoh amat di SMA, dan sayangnya juga bukan orang yang pintar-pintar amat hehehe…meski begitu saya tetap bersyukur bahwa saya masih sering nongkrong di posisi 3 besar di kelas.

Lepas SMA saya tidak berambisi lebih, kecuali bermimpi untuk masuk ke UGM aja, tapi saya setidaknya punya target minimal masuk PTN. Syukur alhamdulillah, saya berhasil diterima di dua PTN, yakni IPB via PMDK dan UGM via tes UM-UGM. Suatu hasil yang sebenarnya hanya sekedar di awang-awang saja. Karena saya bermimpi untuk bisa kuliah di kampus biru, mau tidak mau IPB saya lepaskan. Jujur saya dulu ingin jadi diplomat, masuk di Hubungan Internasional (HI UGM) dan saya menghindari  itung-itungan. Oleh karenanya dulu Teknik Fisika adalah pilihan ketiga saya ketika mendaftar di UGM. Takdir berkata lain, saya malah diterima di Teknik Fisika, apa mau dikata saya sudah terlanjur jatuh hati pada kampus biru, akhirnya saya jalani juga.

Masa-masa kuliah ternyata gak selancar saat di SMA. Saya memilih untuk lebih aktif di BEM dari pada di kelas, ini berujung pada  IPK hasil study saya yang hampir jadi nasakom di tahun-tahun awal kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari aktivitas BEM secara penuh dan memperbaiki nilai, saya merasa bahwa saya bersalah dengan orang tua yang telah membiayai kuliah. Setelah kembali ke bangku kuliah, saya justru menemukan aktivitas lain, namun kali ini berhubungan erat dengan studi saya, yakni Komunitas Mahasiswa Sentra Energi. Empat tahun tidak cukup bagi saya untuk memperbaiki nilai yang sudah terlanjur hancur lembur, saya tak kuasa….tak ada cukup biaya untuk melanjutkan lebih dari itu. Mau tidak mau saya harus lulus dengan nilai pas-pasan.

Saya kemudian berpikir untuk memperbaiki S1 saya dengan S2, tentunya yang bebas biaya alias dengan beasiswa. Sayapun mencari-cari informasi soal beasiswa, rata-rata punya syarat yang susah untuk saya penuhi. Mau ke Jerman apa daya saya memiliki keterbatasan akademik, begitu pula ke Jepang. Berbekal IPK pas-pasan dan sertifikat kemenangan saya di Mondialogo Engineering Award, Thailand memanggil saya untuk belajar di sana dengan tanpa biaya…..Alhamdulillah. Kali ini saya tidak mau dua kali terjebak dalam bidang studi yang kurang saya minati. Mencari yang masih  menjadi bagian yang saya pelajari di Teknik Fisika, yakni Energy Technology, khususnya di Energy Planning. Kali ini saya benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh, saya tidak ingin mengulang hal yang sama. Allah menunjukkan saya bahwa usaha yang saya lakukan tidak sia-sia, saya berhasil lulus dengan nilai Excellent tanpa catatan. Konon ini yang pertama kali dalam sejarah sekolah saya……Thanks God🙂

Pekerjaan utama setelah saya menyelesaikan S2 adalah menjadi job seeker. Senjata awal adalah dengan berlangganan koran Kompas hari sabtu :D   karena mayoritas iklan lowongan kerja biasanya selalu ditayangkan di hari itu. Terhitung sudah puluhan lamaran yang informasinya dari koran itu saya kirimkan, tapi tak ada satupun yang dipanggil hehehe…Senjata kedua adalah melalui jejaring milis-milis yang saya ikuti. Ada tiga lowongan yg cocok saya dapatkan dari milis. Semuanya saya lamar, dan semuanya membuahkan hasil, saya dipanggil untuk wawancara. Kemudian pilihan saya mengerucut pada satu yang paling cocok, dan alhamdulillah diterima. Senjata ketiga adalah saya direct searching dari website universitas-universitas, kalau ada open position yang cocok saya pasti apply. Nah senjata yang ketiga ini juga membuahkan satu hasil, saya dipanggil wawancara dan kemudian diterima. Klo dihitung secara kasar, hampir 3 bulan saya berprofesi sebagai job seeker. Pekerjaan yang membosankan dan membuat makin miskin hehehe…

Perjalanan dari S2 ke S3 bukan hal yang mudah, ini sudah saya mulai sejak saya masih belajar di S2. Beratus-ratus email saya kirim ke berbagai Professor di seluruh penjuru dunia, hampir 90% tak ada jawaban. Kemudian berbagai blog beasiswa telah saya subscribe informasinya, saya juga telah bergabung di milis beasiswa agar tidak ada satupun informasi tentang lowongan PhD tentang energy planning yang saya lewati. Hampir stress dengan masa depan saya, masih beruntung, selama penantian itu saya mendapatkan pekerjaan, sehingga setidaknya bisa mengalihkan pikiran saya tidak hanya pada aplikasi PhD tapi juga pada pekerjaan yang nyata-nyata menghasilkan uang🙂

Saya jadi teringat pepatah  “semakin kita mencoba meraih sesuatu yang lebih tinggi, maka akan semakin banyak kegagalan yang akan kita temui” dan tentu saja pepatah yang jamak “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Thomas Alfa Edison, si penemu bola lampu, bahkan harus menemui kegagalan selama 9998 kali pada eksperimennya sebelum menemukan bola lampu yang kita pakai saat ini.  Hampir sama, Sang pendiri industri motor dan mobil terkemuka dunia Honda, yakni Soichiro Honda, menyatakan bahwa “success is 99% failure“. Jelasnya adalah bahwa sebuah keberhasilan itu terkadang disertai dengan kegagalan-kegagalan, namun lebih tepatnya keberhasilan itu dimaknai sebagai hasil dari kerja keras dan pantang  menyerah.

37 Balasan ke Si Tukang Gagal

  1. setyobudianto mengatakan:

    Sama dengan saya, tapi saat ini belum dapat beasiswa untuk S3. Kalau boleh saya ijin curhat.

    Saya lahir di Cepiring-Kendal. Prestasi lumayan bagus, sejak SD sampai SMA selalu dapat rangking yang bagus. SD di desa Karang Ayu 1, SMP di SMPN 1 Cepiring dan SMA di SMAN Kendal.

    Saya waktu lulus, optimis bisa goal masuk STAN, saya berangkat ke Jakarta bersama temans untuk ikut ujian STAN. Tapi ternyata gagal. Saya tidak diterima di STAN.

    Namun syukur alhamdulillah, saya diterima di dua perguruan tinggi, satu di Teknik Elektro Undip. Satunya lagi di STTTelkom Bandung.

    Saya pilih di STTTelkom Bandung, karena ada ikatan dinas dengan Telkom dan sekolahnya gratis bahkan dibayar.

    Selepas dari STTTelkom, saya ditempatkan di Surabaya. Dan sambil bekerja, saya juga ambil kuliah di ITS, alhamdulillah S2 bisa saya selesaikan tepat waktu.

    Sekarang sedang berusaha untuk bisa melanjutkan ke jenjang S3. Tapi masih belum mendapatkan beasiawa. Mudah-mudahan keiinginan saya untuk S3 ini dikabulkan oleh Allah SWT. Amin

  2. Ery Wijaya mengatakan:

    Pak Budianto, ya memang untuk jadi sukses gak semudah yang kita membayangkannya. Orang-orang yg telah mencapai kesuksesan tentu juga dulu berusaha keras dan pantang menyerah

  3. Tedy mengatakan:

    hm…inspiratif mas..
    terimakasih atas sharing informasinya…

  4. indah mengatakan:

    setengah ceritanya indah sudah pernah denger sepertinya hehe….teteplah berjuang mas dan jangan putus doa

    karena sesunggunya sukses itu butuh proses namun banyak dari kita yang menyerah ketika proses itu sedang berjalan setengahnya…..padahal saat itu Tuhan sedang menyiapkan mental dan hati kita supaya, ketika sukses itu tiba kita benar-benar siap menerimanya ^_^

  5. adityafacilitator mengatakan:

    motivator handal..

  6. Ery Wijaya mengatakan:

    @Teddy: sama2 semoga bermanfaat, thanks ya sudah mampir🙂
    @Indah: hehehe…masih tentang cerita yg sama🙂
    @Aditya: belum jadi handal mas, cuman menceritakan apa yg saya alami🙂

  7. tukangobatbersahaja mengatakan:

    Kisahnya sungguh menginspirasi.
    Saya jadi ingin kuliah S2

    semoga bukan cuma mimpi dapet beasiswa S2.

  8. Ery Wijaya mengatakan:

    @Mbak Apoteker tukang obat: alhamdulillah klo menginspirasi🙂 ayoo never give up, banyak jalan menuju roma, banyak cara mendapatkan beasiswa s2🙂

  9. Sama Yothasmutr mengatakan:

    Well done!…Masha-Allah^_^

  10. syamsiro mengatakan:

    Betul2 cerita yang sangat menginspirasi…saya acungkan dua jempol saya…! Smoga sukses selalu buat Mas Ery…!

  11. Ery Wijaya mengatakan:

    @Sama: many thanks
    @Mas Syam: alhamdulillah klo menginsprasi, tapi saya yakin mas syam juga punya kisah perjuangan yg gak kalah seru dengan yg saya alami🙂

  12. Roee P-ong mengatakan:

    Kalau kayak gini prestasinya benar2 membanggakan.
    Saya, sejak SD selalu berada diperingkat terakhir dan lulus dengan nilai yang sangat mengerikan, sampai2 ditolak oleh 5 SMP dan akhirnya masuk ke SMP yang sangat low profil. Tapi lepas dari SMP, saya berhasil masuk di SMA unggulan di kota saya.

    Lepas SMA kegagalan terulang lagi, Gagal di terima di UNHAS, saya memilih jurusan teknik elektro saat itu, dan sekarang mejalani kuliah di PTN yang tidak punya nama dengan jurusan yang sama.

    Yang lebih menyedihkan lagi, Mata kuliah sudah lulus semua, Saya malah belum punya Inspirasi judul Tugas akhir!

    Ada Saran??

    oia, konsentrasi minat saya Teknik Tenaga Listrik – konversi eneger listrik.

  13. Roee P-ong mengatakan:

    … Energi Listrik maksudnya.

  14. Ery Wijaya mengatakan:

    hai Roee, Thanks ya dah mampir,

    Klo buat anak TTL kyknya lebih cocok cari yg aplikatif, gmn klo pembangkit listrik tenaga air mini (mikrohidro). Kayaknya sesuai untuk diaplikasikan di daerahmu sana

  15. Nur Setianto mengatakan:

    inspiring story…kapan dibuat autobiografi Er?

  16. Ery Wijaya mengatakan:

    @Mas Antok: hehehe memangnya sudah pantas ya dibikin autobiografi? nantilah nunggu klo ada penerbit yg lewat mampir di blog ini :))

  17. yuwaku mengatakan:

    Semoga sukses selalu.

  18. Luthfi mengatakan:

    Makasih mas,inspiratif!

    Saya baru mau kampus biru setelah dua x ganti kampus. Baru mau semester1,telat 2 tahun. Mudah2an umur gak jadi problem sekarang

  19. wiangga0409 mengatakan:

    wow.. sangat sangat inspiratif sekali mas..

    bikin saya jadi semangat belajar lagi…

    thanks for sharing this…

    sukses selalu

  20. Ery Wijaya mengatakan:

    @Yuwaku: makasih ya🙂
    @Lutfi: wow kerasan amat mas ganti2 kampus😀 tapi memang seh klo kampus impian belum tercapai rasanya penasaran untuk dicoba dan terus dicoba. Wellcome to blue campus, semoga kerasan dan raihlah mimpimu!
    @Wiangga: terima kasih sudah mampir, alhamdulillah klo cerita saya menginspirasi🙂

  21. Tirta Kusuma mengatakan:

    Allah itu memang maha adil y… Aq salut pd kakak… Aq emang gk spntar kakak,,, tp smg q bs brsha lbh baik lg… Sukses buat kakak..

  22. erywijaya mengatakan:

    @Tirta: benar, Allah Maha Adil, siapa yang menanam dia yang akan menuai hasilnya🙂

  23. Roee P-ong mengatakan:

    @Ery Wijaya
    Tapi survey lapangan-nya itu yang kayaknya menguras banyak tenaga, trus skripsinya jadi lama deh selesainya. Bisa2 saya nanti beruban dikampus!🙂

  24. koeshariatmo mengatakan:

    hehehe..bikin semangat neh dari pagi baca2 isi di blog mas sambil ngajar..hehehe..
    terimakasih sudah sharing pengalamannya yang akan membuat oranglain yang membacanya menjadi bangkit kembali seperti saya..

  25. erywijaya mengatakan:

    @Roee P-ong: gak juga, paling butuh survey debit dan head aja. Lagian biasanya rerata debit air tahunan juga bisa diperoleh datanya di dinas perairan, jadi tinggal cari tempat yg headnya cukup aja. Simple kok, asal mau berusaha dikit beres deh🙂

    @Mas Koeshariatmo: Alhamdulillah klo bisa menyemangati, tapi mohon maaf ya klo tulisan saya bahasanya kurang menarik🙂

  26. 'Ne mengatakan:

    wah terima kasih postingannya..

    memang jika kita pernah mengalami kegagalan justru dari situ kita bisa belajar menjadi lebih baik lagi ya..
    semoga sukses.. salam🙂

  27. erywijaya mengatakan:

    @Ne: ya, tapi kita tidak akan merasa gagal klo belum pernah mencoba🙂

  28. Icha AZza mengatakan:

    Bener2 pelajaran berharga bwt aq, mas…. arigathanks… ^_^

  29. erywijaya mengatakan:

    @Icha: yup….yg semangat ya kuliahnya😀

  30. nadiafriza mengatakan:

    s3? wow! TN angkatan berapa mas? teman2 saya TN angkatan 14 kalo ga salah🙂

  31. Ery Wijaya mengatakan:

    Nadia, saya bukan alumni TN, dulu saya gagal masuk ke sana hehe

  32. Lucky dc mengatakan:

    Great Inspiration Story😉
    Membangkitkan semangat saya kembali. Salah satu cita-cita saya memang ingin mendapatkan beasiswa S2 ke luar,tapi makin lama ambisis itu makin sirnah setelah melihat prestasi saya di kampus yang termasuk tidak terlalu pintar😦 dan gak bodoh juga🙂.Sekarang saya tingkat 4 (semester7) dengan bidang studi teknik sipil di salah satu PTN di Bandung. Kira-kira klo mau searching beasiswa itu dimulai dari kapan?
    Apakah secepatnya atau nunggu lulus S1 dulu. Maaf ya Commentnya panjang…
    Thanx A Lot..😀

  33. Ditter mengatakan:

    Sip… saat ini saya sedang galau dengan masa depan saya… Membaca tulisan ini, semangat saya Insya Allah mulai tumbuh… Terima kasih.

  34. noee mengatakan:

    very inspiring… jalan mas Ery mungkin tidak mulus, tapi termasuk orang yang beruntung.
    Saya jg berencana melanjutkan studi setelah lulus s1. Cari2 beasiswa, apply, tapi belum lolos dan sempat down. Sekarang sedang mencoba apply lagi, semoga beruntung (^_^)v

  35. erywijaya mengatakan:

    @noee: yap, tetap berusaha!!! orang yg berhasil itu adalah orang yg pantang menyerah! selamat berjuang, semoga keberuntungan semakin mendekat🙂

  36. eduardoxmenezes mengatakan:

    semangatnya sampai sini!

  37. saifurroyya mengatakan:

    Sebagai salah satu warga Plantaran, Kaliwungu, saya ikut bangga dengan prestasi dan kerja keras Pak Erywijaya. Semoga perjalanan panjang Bapak dalam meraih prestasi, menjadi inspirasi bagi pemuda-pemudi Kaliwungu, Kendal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: