Sustainable Energy = Sustainable Money

Saya menerima email dari salah satu mahasiswa teknik tingkat akhir di kampus berjaket kuning. Dia menyatakan kegelisahan masa depannya sebagai seorang calon insinyur yang sebentar lagi lulus kuliah, dia bertanya pada dirinya sendiri “bisakah saya survive untuk bekerja di ladang sustainable energy? atau haruskah saya mengikuti arus kawan-kawan teknik untuk terjun bekerja di ladang minyak dan gas (migas)?“. Saya dimintanya untuk membantu menemukan jawaban itu. Sebagian besar saya sudah mencoba memberikan jawaban padanya, tapi ijinkanlah saya menshare apa yang saya pahami tentang “janji kebahagiaan” dari sustainable energy di blog ini, semoga bisa menjadi bahan masukan bagi kawan-kawan mahasiswa teknik yang sedang mengalami kegundahan hati yang sama.

Sebelumnya, saya akan memperkenalkan istilah sustainable energy terlebih dahulu. Sustainable energy is the provision of energy such that it meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their needs. Sumber dari sustainable energy mayoritas adalah berasal dari energi terbarukan, meski demikian, teknologi energi nuklir juga bisa dimasukkan sebagai bagian dari sustainable energy. Tidak hanya berkutat pada sumber energi, sustainable energy juga berkaitan dengan energi konservasi seperti penghematan energi, dan pemilihan teknologi yang bisa meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Sebagai salah seorang mantan mahasiswa teknik, saya memahami betul gejolak hati yang melanda hampir sebagian besar mahasiswa teknik tingkat akhir yang ingin bekerja/studi lanjut di bidang sustainable energy. Nun jauh di sana, ladang Migas melambai-lambaikan janji (yang sudah terbukti) pada calon engineer ini dengan gaji berjuta-juta dan fasilitas yang melimpah ruah. Anak muda mana yg tidak tertarik dengan kemakmuran dan kebahagian yang disediakan oleh pekerjaan Migas?. Sementara itu sayup-sayup di sudut yang lain, orang-orang berteriak bahwa dunia terancam akan terpanggang akibat banyaknya gas rumah kaca yang menjebak panas di atmosphere. Kata sekelompok kecil ini, “dunia kita butuh sumber energi yang ramah lingkungan dan tidak menambah sesaknya jumlah gas rumah kaca di langit”. Lalu sekelompok ini menyebut sumber energi itu sebagai “sustainable energy“. Namun sayangnya bekerja di bidang ini tidak terlihat menjanjikan banyak kemakmuran, bahkan kita tidak akan menemukan daftar lowongan insinyur biogas, biomass, wind energy, hydropower energy, dll di halaman koran kompas edisi hari Sabtu. Lantas, jika saya memilih belajar di bidang sustainable energy bisa memperoleh pekerjaan yang saya impikan?

Rasio Cadangan-Produksi Minyak Dunia

Mari kita tengok lebih details data yang disajikan oleh British Petroleum (BP) di atas (klik gambar tersebut untuk resolusi yang lebih besar), dihitung dari tahun 2006, cadangan minyak di dunia yang saat ini diketahui hanya akan bertahan sampai 40,5 tahun produksi. Artinya, pada tahun 2047 tidak akan ada lagi produksi minyak. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? mari kita lihat gambar dibawah (klik gambar tersebut untuk resolusi yang lebih besar) yang saya peroleh dari hasil proyeksi Pengkajian Energi Universitas Indonesia (PE-UI). Dihitung dari tahun 2006, kandungan minyak di Indonesia diperkirakan hanya akan bertahan hingga tahun 2025. Dua data dari BP dan PE-UI ini diasumsikan jika cadangan-cadangan minyak dunia yang baru tidak berhasil ditemukan. Saat ini hampir sebagian besar cadangan minyak bumi yang telah dieksplorasi berada di daratan, sedangkan yang masih banyak menjadi misteri adalah keberadaan cadangan minyak di lautan lepas. Sedangkan cadangan gas alam, diperkirakan akan bertahan lebih lama dari pada minyak, karena booming eksplorasi gas alam baru terjadi setelah tahun 1980an. Berpijak dari data di atas, maka kita bisa memperkirakan seberapa lama karir anak-anak muda sekarang di dunia migas, jikalau cadangan minyak Indonesia akan berakhir tahun 2025, itu berarti 15 tahun lagi dari sekarang (tahun 2010).

Rasio Cadangan-Produksi Minyak di Indonesia

Lalu bagaimana dengan karier di bidang sustainable energy?. Untuk memenuhi kebutuhan demand energy yang semakin naik secara tajam, sementara kemampuan penyediaan minyak bumi yang semakin menurun, dunia beralih menggunakan gas alam, barubara, nuklir dan tentu saja energi terbarukan. Isu pemanasan global menjadikan penggunaan batubara  di masa mendatang akan mengalami kendala yang berarti, kecuali clean coal technology berhasil dengan tepat diaplikasikan dalam dunia industri. Perkembangan penggunaan energi ke depan yang paling berpotensial adalah nuklir dan energi terbarukan karena lebih ramah terhadap lingkungan.

Jika potensi penggunaan sustainable energy ke depan sangat besar, lalu kenapa lowongan pekerjaan di bidang ini samar-samar dan bahkan tidak pernah terdengar?. Menurut mbak Aretha Aprilia, teman se-lab saya nanti di Kyodai, dalam buku karangannya berjudul Rahasia Sukses Berkarier Internasional (Rasberi), 70% – 80% pekerjaan diperoleh melalui jejaringan (networking), dan hanya 5% dari iklan lowongan dan pameran bursa kerja. Pernyataan mbak Aretha memang benar, hampir mayoritas lowongan pekerjaan tentang sustainable energy diposting melalui jejaringan. Hal ini dikarenakan minimnya sumberdaya manusia dalam bidang ini, sehingga dengan memosting lowongan kerja pada jaringan yang tepat, maka sang pencari kerja akan juga memperoleh kandidat yang cocok. Untuk mengatasi masalah ini, silahkan mulai dari sekarang bergabung dengan milis-milis dan jejaring profesional yang bergerak di sustainable energy. Kalau di Indonesia, salah satunya ada METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia) dan Jaringan Mikrohidro Indonesia, sebenarnya masih ada banyak yang lainnya, silahkan di googling ya🙂.

Ya, banyak orang yang tidak sadar bahwa ladang sustainable energy sedang tumbuh dengan pesat dan membutuhkan orang yang tepat. Baik dalam bidang engineering ataupun riset, hal ini dikarenakan technology dalam bidang sustainable energy belum sepenuhnya mature dan sedang berkembang. Minimnya SDM di bidang ini menjadikan “harga jual” orang yang memiliki keahlian dalam sustainable energy menjadi tinggi. Boleh dikata gaji yang ditawarkan hampir mendekati perusahaan Migas. Di Indonesia ada banyak perusahaan yang bergerak dalam sustainable energy, seperti Gikoko Kogyo dari Jepang dan Asia Carbon Indonesia yang telah menjadi konsultan sekaligus kontraktor berbagai project energy conservation di berbagai industri besar di Indonesia, dan juga melayani pengerjaan project energi terbarukan seperti biogas, biomasa, wind energy, solar energy, dll, bahkan perusahaan minyak pun sekarang bergeser menggeluti industri ini, misalnya Pertamina dan Chevron yang sekarang bergerak di industri geothermal. Selain industri, tentu saja sektor riset dan akademisi dalam bidang ini juga memiliki ladang yang luas. LIPI dan BPPT adalah salah satu pusat riset negeri yang banyak bergerak dalam bidang ini. Belum lagi kampus-kampus di Indonesia yang jumlahnya ribuan saat ini juga tengah melirik untuk mengembangkan sustainable energy sebagai bagian dari core research mereka

Saya bisa bercerita bahwa karier di bidang sustainable energy sangat cerah karena saya mengalaminya sendiri, ada  banyak tawaran yang saya terima untuk bekerja dalam industri ini, mulai dari bekerja di real industri energi konservasi, LSM hingga bekerja sebagai akademisi. Karier di bidang ini mempunyai prospek yang sangat panjang dan cerah, mengingat masyarakat dunia saat ini mulai menunjukkan kepeduliannya akan pentingnya aplikasi sustainable energy dalam kehidupan mereka. Karena bumi makin rentan akibat pembakaran bahan bakar fosil yang makin menjadi-jadi dalam abad ini. Sekarang, pilihan kembali pada diri Anda masing-masing🙂

26 Balasan ke Sustainable Energy = Sustainable Money

  1. gadiskcil mengatakan:

    kenapa harus materi yang menjadi titik tekan? Tidakkah terpikir bahwa di bidang yang “baru” ini ada ladang amal yang menanti?
    Komentar dari dokter yang selalu digugat ini:p

  2. Ery Wijaya mengatakan:

    @Ane: Sustainable energy = sustainable money = sustainable environment🙂

  3. gadiskcil mengatakan:

    tetap g sreg ketika ada money ditengahnya. Bukan mau naif, semua butuh uang memang, tapi bukan itu tujuannya. Dan menurut saya tanda yang dipakai tidak tepat kalo pake sama dengan (=), kalo materi jadi ikutan dari usaha kita untuk m’sustain” energy, mensejahterakan manusia, lingkungan, g masalah. Tapi ketika dari awal maennya materi, hehe, maaf, sepertinya pertanyaan yang anda ajukan pada saya, harus ditanyakan juga pada anda dan profesi anda.

  4. gadiskcil mengatakan:

    pisss…:p

  5. Ery Wijaya mengatakan:

    @Ane: sesuatu itu penting untuk dinominalkan, bagi para fresh graduate, besaran nominal sangat menentukan semangatnya. Oleh karenanya, perlu diberikan pandangan2 masa depan mana yg tidak hanya menghasilkan uang tapi juga menyehatkan lingkungan🙂

  6. lippocikarang mengatakan:

    menarik sekali “tidak hanya menghasilkan uang tetapi juga menyehatkan lingkungan”

  7. erywijaya mengatakan:

    @Lippo: benar mas, sustainable energy menjanjikan dua hal tersebut🙂

  8. gadiskcil mengatakan:

    Gimana kalo dibalik jadi menyehatkan lingkungan juga menghasilkan uang. Titik tekan dan startnya akan berbeda.
    Hmm, sayang sekali jika penyemangatnya adalah materi. Alhamdulillah berarti saya berada di profesi saya sekarang🙂

  9. Roee P-ong mengatakan:

    Mungkin gak sih Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dikembangkan di Indo? Soalnya, sama tabung gas elpiji aja orang2 pada heboh luar biasa.

    Tapi banyak lulusan Teknik sekarang yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya. Beberapa senior saya ada yang bekerja di Bank. Yang benar aja masa orang POWER kerjanya di Bank! Sia2 dong belajar Motor2 Listrik, Elka daya, Instalasi listrik, pembangkitan energi listrik, Tegangan tinggi: tegangan tembus AC/DC; pengujian isolasi dll yang lebih seram lagi kalo toh akhirnya goalnya di bank.

    Mungkin benar kuliah memang hanya untuk makan!

  10. Ery Wijaya mengatakan:

    @Ane: dibalik juga boleh, yang penting hasilnya🙂

    @Roee P-ong: mungkin banget! tergantung kemauan dan keberanian pemerintah aja, yang pasti mau tidak mau ke depan kita harus pakai Nuklir, karena sumber daya kita terbatas. Makanya klo jadi mahasiswa yang fokus, biar negara kita bisa maju hehehe

  11. gadiskcil mengatakan:

    @M’Ery: hehe, y ptg niat, proses dan juga hasil. jgn lupa, hehe:p
    @Roee: waduh, qo begini? klo mau makan mah g usa kuliah juga bisa. yang g kuliah juga bisa makan qo…

  12. wiangga0409 mengatakan:

    idealisme memang mahal harganya..

    maunya money ok, idealism ok.

    but it so rare..

    semoga diberikan jalan terbaik..

    amiin

  13. marsudiyanto mengatakan:

    Weh…
    Aku rena rene terus, tapi kowe ra tau ning nggonaku…
    Mosok sich rak iso mlebu.
    Teknologi canggih kok payah😀

  14. ari syaoran mengatakan:

    wah, sangat bagus sekali….
    lebih bagus lagi kalau sudah diterapkan di kehidupan bermasyarakat hehe…

  15. Ery Wijaya mengatakan:

    @Pak Mars: beneran Pak sumpah punya njenengan gak bisa saya akses🙂
    @Ari: ya insya Allah benar2 diterapkan🙂

  16. Aldy mengatakan:

    Energi yang berkelanjutan berarti energi yang tergantikan ya Mas?

    Sebenarnya negeri ini banyak sumber, tetapi pengelolaannya belum sampai kesana, manja dengan kondisi alam.

    Ada peluang kenapa tidak diambil?

  17. Eyangresi313 mengatakan:

    Sejenak tafakur dalam kehingan……..
    Memaknai arti hidup dalam seraingkaian khilaf dan dosa…..
    Lisan kadang tak terjaga,….
    Jannikadang terabaikan,……
    Hati kadang berprasangka,….
    Sikap kadang menyakitkan,…..
    Harapan ini akan menjadi indah…..
    Jika maaf & silahturrahim ada diantara kita.
    Selamat menempuh bulan suci Ramadhan 1431 Hijriah.
    Atas nama pribadi dan keluarga saya ucapkan
    Mohon maaf lahir dan batin.
    Semoga Allah selalu memberikan
    Taufiq, Hidayah, Maghfirah dan Ridho-Nya untuk kita semua.
    Amiiiii….n !

  18. Tedy mengatakan:

    nah..gimana dengan energi nuklir di indonesia mas..

  19. gadiskcil mengatakan:

    @wiangga: he, akan mahal klo qt bikin mahal:)

  20. erywijaya mengatakan:

    @Pak Aldy: kita memang punya banyak sumber daya alam Pak, tapi minim sumber daya manusia🙂
    @Eyangresi: Iya sama2 ya
    @Tedy: Ya mau gak mau nuklir harus dibangun di Indonesia dalam beberapa dekade mendatang, klo gak kita gak akan mampu memenuhi permintaan energi domestik

  21. agun mengatakan:

    geothermal aja.

  22. nadiafriza mengatakan:

    wow ilmu banget nih mas🙂 makasi udah posting yaa..

    Chevron? fufufu

  23. Lucky dc mengatakan:

    Kenapa mahasiswa rata-rata klo dah lulus dan pas mau kerja ingin di oil and gas company, salah satu jawabannya adalah salary yang di atas rata-rata dari bidang lainnya.

  24. sapatu dihakan mengatakan:

    Hehehe..
    semua insinyur pasti tergiur
    dengan gaji yang bikin makmur
    tapi ngga selalu duit jadi tolak ukur
    apa lagi kalo udah dikubur😀

  25. nTo mengatakan:

    tulisan yang sangat bagus… mohon ijin untuk dishare…

  26. rahma muthia mengatakan:

    Setuju. Yang penting lakukan semua hal setiap hari, dengan hati🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: