Rupiah Oh Rupiyah

Pagi ini saya mengecek isi tas punggung usang yang sudah tak saya pakai lagi, di salah satu kantongnya saya menemukan beberapa lembaran mata uang rupiah, jumlahnya kira-kira 30 ribu rupiah. Sudah hampir setengah tahun lebih saya tidak melihat mata uang ini secara langsung. Memegang rupiah membuat saya jadi teringat perbincangan hot tentang redenominalisasi mata uang kita yang diwacanakan oleh BI (Bank Indonesia) dengan memotong 3 digit nol paling belakang. Kali ini saya juga akan bercerita tentang rupiah dan pengalaman unik yang saya jumpai berkaitan dengan nominal mata uang kita yang begitu besar angkanya.

Nama Rupiah

Rupiah, bagi orang Jawa nama ini terkesan sangat ndeso atau kuno. Beberapa orang Jawa memiliki nama Rupiah, cara membacanya adalah “Rupi” dan “ah“. Umumnya dipakai nama perempuan Jawa jaman dulu,  atau kalaupun jaman sekarang masih ada yang menamai anaknya dengan Rupiah biasanya adalah orang Jawa yang tinggal di daerah pedesaaan. Sedangkan Rupiah untuk nama mata uang Indonesia sebenarnya kita baca sebagai “Rupiyah“, ada tambahan huruf “y” di antara huruf “i” dan “a“.

Mungkin kita belum banyak yang tau bagaimana asal usul nama Rupiah, bahkan termasuk saya sendiri😀. Setelah melakukan riset kecil-kecilan dengan tool “google”, rasa penasaran saya akhirnya terpuaskan sudah. Kata Rupiah berasal dari bahasa Sansakerta, yakni “rup-pya” yang artinya perak, khususnya perak yang ditempa atau dicetak. Nama Rupiah juga erat kaitannya dengan Rupee, mata uang bangsa India yang juga berarti perak dan juga punya nama yang hampir sama dengan mata uang negara Maladewa (Maldives), yakni Rufiyah.

Sejarah mata uang kita ada kaitannya dengan awal mula perdagangan bangsa Indonesia kuno yang banyak hubungannya dengan bangsa India (utamanya dari daerah Gujarat) dan Maladewa, sehingga nama Rupiah dipakai karena lidah kita terasa lebih familiar. Dahulu di masa penjajahan Belanda, pemerintah jajahan menggunakan mata uang Gulden, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia/Melayu sebagai Rupiah.

Besarnya Nominal Rupiah Kita

Nominal Uang Rupiah kita adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Zimbabwe dan Vietnam. Di Zimbabwe, nominal mata uang terbesar yang diedarkan oleh pemerintah adalah 100 milyar Dollar Zimbabwe (in English 10o billion), uang sebesar itu diklaim oleh pemerintah Zimbabwe mempunyai nilai setara dengan 30 Dollar Amerika. Sedangkan di Vietnam, nominal mata uang terbesar yang diedarkan adalah 500 ribu Dong yang nilainya kurang lebih sekitar 31 Dollar Amerika.

Nominal Dollar terbesar di Zimbabwe

Nominal Dong terbesar di Vietnam

Nominal Besar Memalukan

Saya mempunyai pengalaman yang menggelikan sekaligus memalukan tentang nominal rupiah kita. Waktu itu saya sedang ada urusan di salah satu Bank di Bangkok, kebetulan ada seorang Ibu tua, orang Thai, datang ke kasir, si Ibu bilang mau menukar mata uang Rupiah ke Thai Baht, setelah itu si kasir menanyakan berapa rupiah uang yang mau dia tukarkan. Ibu itu lantas mengeluarkan uang selembar 1000 rupiah🙂. Lalu Si Kasir mempersilahkan Ibu itu untuk menunggu sejenak, karena dia akan mengecek harga tukar mata uang di Banknya, setelah selesai mengecek daftar nilai tukar lalu dia langsung menolak permintaan penukaran 1000 rupiah ke dalam Thai Baht.

Rupanya Ibu itu tidak tahu kalau nilai 1000 Rupiah itu hanya sekitar 3 Baht saja, cukup untuk beli permen di Bangkok , tapi tidak cukup untuk beli gorengan😀. Mungkin si Ibu berpikir karena antara Indonesia dan Thailand sama-sama negara berkembang, uang 1000 Rupiah itu sama dengan 1000 Baht, padahal 1000 Baht itu sama dengan 30 USD🙂 alias mendekati 300 ribu Rupiah.

Atas 1,000 Baht, bawah 1,000 Rupiah

Redenominalisasi Rupiah

Wacana yang digulirkan oleh BI sekilas akan membuat nominal mata uang kita menjadi lebih ringkas. Nominal yang terbesar diedarkan oleh pemerintah saat ini, yakni 100 ribu Rupiah akan berubah menjadi 100 Rupiah saja. Pemotongan nominal juga akan menjadikan mata uang kita terlihat lebih gagah terhadap mata uang negara lain, misalkan terhadap Dollar Amerika; saat ini nilai tukar 1 Dollar Amerika berada di kisaran 9000 Rupiah, kelak jika mata uang kita jadi diredenominalisasi maka 1 Dollar Amerika akan setara dengan 9 Rupiah saja.

Penyederhanaan nominal mata uang Rupiah

Rupiah gagah tidak berarti bahwa perekonomian Indonesia menjadi semakin kuat, karena redenominalisasi hanya membuat ringkas nominal mata uang saja, namun tidak merubah kekuatan nilai mata uang itu sendiri. Nilai tukar mata uang akan menguat jika terkerek oleh meningkatnya perekomonian negara.

Rupiah Menguat-Melemah, Pemerintah Gusar

Menguat dan melemahanya nilai tukar rupiah terhadap mata uang Dollar Amerika adalah hal yang lumrah kita alami. Ketika nilai tukar rupiah melemah, pemerintah berusaha untuk mengereknya agar naik, hal ini dilakukan karena ketika nilai tukar turun akan menjadikan biaya import barang yang akan kita konsumsi menjadi semakin mahal. Imbasnya keadaan perekonomian domestik akan ikut tergoncang, karena banyak barang-barang yang kita konsumsi hasil dari import akan meroket harganya. Sadar atau tidak ada banyak barang-barang sederhana yang kita konsumsi setiap hari merupakan hasil import, misalnya tempe dan tahu. Kedelai yang merupakan bahan baku utama tempe dan tahu sekitar 70-80% disuplai dari luar negeri, utamanya dari Brasil dan Australia. Berapa juta orang Indonesia yang setiap hari makan tempe dan tahu, dan jika nilai tukar rupiah melemah itu berarti bahwa harga tahu dan tempe akan ikut naik.

Lalu bagaimana saat rupiah menguat? dalam tingkat penguatan tertentu penguatan rupiah juga akan membuat pemerintah menjadi gusar. Kenapa? karena menguatnya rupiah akan berimbas pada melemahnya daya kompetisi barang-barang ekspor Indonesia dibanding dengan barang ekspor yang serupa dengan negara lain. Harga barang ekspor dari Indonesia akan menjadi semakin mahal, dan bahkan mungkin tidak akan laku jika negara lain memiliki jenis barang yang sama dengan kualitas yang sama juga namun memiliki harga yang lebih murah. Imbas dari penurunan arus barang ekspor akan menurunkan pendapatan devisa negara kita.

20 Balasan ke Rupiah Oh Rupiyah

  1. rahardiy mengatakan:

    wah menarik nih artikelnya Pk Ery😀

  2. utari mengatakan:

    pembahasan yang menarik mas ery,,
    cuma mau minta klarifikasi,,apakah antara “redominalisasi” pada paragraf pertama dan “Redenominalisasi Rupiah” pada judul sub bab artinya sama?? setahu saya tentang istilah penyederhanaan rupiah ya redenominalisasi..
    cuma ingin sharing:
    saya juga tertarik tentang contoh barang turunan impor yg mas eri contohkan yaitu tahu dan tempe..
    kebetulan belum lama ini saya mengikuti seminar dan ada bahasan juga tentang tahu dan tempe di Indonesia,,
    kabar baiknya,, tahu yang diproduksi di indonesia sebagian besar sudah menggunakan kedelai lokal,,namun untuk tempe,,kedelai lokal masih belum bisa digunakan untuk membuat tempe yang enak..🙂

  3. Ery Wijaya mengatakan:

    @Rahardi: sippp
    @Utari: yang benar Redenominalisasi, itu tadi salah ketik🙂 Wah thanks ya info kedelainya, saia penggemar tempe dan tahu soalnya hehehe

  4. Heny Oliper mengatakan:

    Menyikapai tentang redenominasi>>>>>>>>>

    PJS Gubernur Bank BNI_Bpk Darmin Nasution menyikapiny dg baik..tapi menurut saya hal yg seperti gak perlu digembar gemborkan..T0H 2020 baru di Sosialisasikan..ini hanya meambah panjang sejarah KETIDAKPASTIAN perubahan sistem Keuangan Indonesia..nilai yang tak berubh it justru brdampak buruk,cntoh saja pada perhitungan ..apa gak dibuat susah tu Guru2 yg menerapkanny kpd anak didik ttg pelajaran MATEMATIKA…Masalah bnyk,dtmbh ribet dg yg beginian…ADA2 SAJA

    Buat Bapak ibu d pemerintahan,mohon dselesaikan dulu masalah2 yg sudah ada d Indonesia.Nantilah soal redominasi.Masih ada soal banjir,rekening perwira kepolisian,tabung gas 3kg,kelangkaan BBM,dll.Masih banyak PR yg belum dselesaikan..

  5. Ery Wijaya mengatakan:

    @Heny: hal kyk gini bukan di gembor-gemborkan, tapi bagian dari sosialiasi non-formal. Menurut saya, denominalisasi tidak akan merubah sistem keuangan Indonesia secara drastis, justru ini adalah langkah maju untuk menyederhanakan mata uang kita. Jangan terburu-buru menjadi apatis🙂 Soal banjir, rekening perwira dll, itu ladangnya kan beda sama BI, jadi ya biarlah semua tetap bekerja pada jalurnya masing-masing🙂

  6. Heny Oliper mengatakan:

    Tapi tidak dipungkiri …kebijakan dan andil pemerintah berperan besar juga,dan dampaknya semua merasakan….
    memang selalu ad pro dan Kontra disetiap sesuatu perubahan dan perkembangan…apapun itu,,,Saya sebagai masyarakat indonesia menyikapinya seperti itu

    Salam😆

  7. masyhury mengatakan:

    betapapun..
    harusnya kita tetap cinta sama INDONESIA..
    salam kenal aja mas..

  8. Ery Wijaya mengatakan:

    @Henny: Saya kira masyarakat Indonesia sudah cerdas, hanya segelintir elit saja yang suka memancing di situasi ini🙂 kalau kita bisa berpikir cerdas, tentu tidak mudah ikut2an arus🙂 saatnya yang muda yang tampil lebih baik.

    @Mashury: Siip bener banget🙂 salam kenal juga, thanks ya dah mampir

  9. gadgetboi mengatakan:

    siap-siap pusing dech …

  10. Ifan Jayadi mengatakan:

    Saya pernah baca di salah 1 blog tentang penerapan aturan baru ini di Rusia. Awalnya mengalami semacam kepanikan karena sosialisasi yanng dilakukan masih minim shg masyarakat masih blm paham tentang hal ini. Di toko2 terjadi antrian yang cukup panjang karena kasir dengan begitu hati2nya melakukan transaksi agar tidak terjadi semacam penipuan dan lain sebagainya.

  11. erywijaya mengatakan:

    @Gadgetboi: ambil gampangnya aja, jangan pusing2 hehe
    @Ifan: ya di Turki program ini hanya berjalan kurang dari 7 tahun, sedangkan di Indonesia direncanakan selama 10 tahun, saya pikir ini lebih dari cukup untuk membuat masyarakat kita ready🙂

  12. andyreid03 mengatakan:

    artikel yg bgus bang… jadi tambah pengetahuan nih… hehe..

  13. AMPAH (BARITO TIMUR) mengatakan:

    kalau memikir kejadian seperti itu nambah pusing aja … rakyat miskin dan kecil seperti saya lah yang akan jadi korban pertamanya … lah wong ongkos becak disini masih 1000 rupiah … heee.

  14. bayuputra mengatakan:

    Saya mendukung terus … kalau itu yang terbaik untuk Negara Indonesia Tercinta ….

  15. erywijaya mengatakan:

    @Andyreid: semoga bermanfaat
    @Bayu 1&2: nanti tahun 2020 udah gak ada becak lagi mas😀

  16. infoomatic mengatakan:

    bisa dapat foto2 uang antik gitu…keren bro..

  17. FiyaFiya mengatakan:

    Saya baru tahu juga sejarah rupiah dari sini. Hehe..
    Btw, uang Rupiahnya 30rbu? Minta mas *nyodorin tangan*

    kidding

    Tukeran Link mas..
    ^^
    Salam kenal

  18. nadiafriza mengatakan:

    bahkan sama Baht pun Rupiah kalah😀

  19. Asop mengatakan:

    Namanya saja rupiah…😆

  20. Lucky dc mengatakan:

    Saya dukung Redenominasi. Jadi, gak ribet klo buat pembukuan di excell..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: