Lunturkah Nasionalismemu WNI di Luar Negeri?

Acapkali saya membaca komentar di status Facebook kawan-kawan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di luar negeri untuk selalu mengingat tanah air tercinta Indonesia, dan menanyakan kapan akan pulang untuk berbakti pada negara. Dulu saya dan mungkin juga anda yang tinggal di Indonesia, seringkali berpikir bahwa orang-orang terbaik Indonesia yang bekerja di luar negeri telah luntur nasionalismenya karena diperbudak oleh uang, diperbudak oleh fasilitas kemajuan negara orang, sehingga lupa akan negara sendiri. Benarkah?

Ada jutaan WNI yang mengadu nasib dan peruntungan untuk bekerja di negara orang, mayoritas adalah sebagai tenaga kerja kasar dan non-formal , seperti pembantu rumah tangga, karyawan pabrik, karyawan perkebunan, dan jasa konstruksi, sedangkan sebagian kecil bertindak sebagai tenaga ahli (expert). Bagi WNI yang bekerja di sektor non-formal dan tenaga kasar, mungkin nasionalismenya tidak pernah dipertanyakan, karena memang mayoritas mereka berpendidikan rendah dan  bekerja di luar negeri semata-mata hanyalah faktor dorongan ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pekerjaan yang sama jika mereka lakukan di Indonesia.

Namun, hal berbeda jika ada WNI yang berstatus sebagai tenaga ahli. Golongan ini merupakan WNI dengan pendidikan tinggi, minimal S2 atau  S1 dengan pengalaman pekerjaan bertahun-tahun. Mayoritas bekerja sebagai tenaga ahli di perusahaan-perusahaan multinasional ataupun bekerja sebagai peneliti/dosen di kampus-kampus terkenal dunia atau di pusat riset terkemuka dunia. Mereka inilah yang seringkali dianggap “melarikan diri” dari kenyataan yang ada di Indonesia. Betapa tidak, menjadi tenaga ahli di luar negeri tentu saja menikmati fasilitas dan upah yang berkali-kali lipat dari yang mereka dapakan di Indonesia, bahkan banyak yang upahnya lebih besar dari gaji Presiden Indonesia, belum lagi berbagai fasilitas yang mereka terima sangat jauh dari apa yang Indonesia bisa tawarkan, sangat menyilaukan dan lebih dari cukup untuk membuat mereka betah tidak  kembali ke tanah air. Lalu, apakah mereka benar-benar telah luntur nasionalismenya? lupakah mereka dengan tanah air tercinta?

Sebagai seorang akademisi/peneliti yang bekerja di negara orang, saya akan membatasi lingkup tulisan ini pada dunia saya sendiri. Saat ini tercatat ada ribuan orang Indonesia yang menuntut ilmu di berbagai negara orang, mulai dari benua Afrika (mayoritas di Mesir), benua Asia-Australia (negara-negara Arab, Australia, China, Singapore, Jepang, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Korea Selatan), benua Eropa (Jerman, Inggris, Belgia, Belanda, dan Rusia), dan benua Amerika (mayoritas di Amerika Serikan dan Kanada). Mayoritas adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan atau dosen, tapi tidak kecil juga jumlahnya yang berstatus free tidak terikat dengan pekerjaan di tanah air.

Yang berstatus free tersebut ketika telah menyelesaikan studinya ada yang kembali ke tanah air untuk mencari pekerjaan di Indonesia, namun ada juga yang memilih untuk bekerja di negara orang. Ada banyak orang-orang Indonesia yang memiliki kejeniusan luar biasa bekerja di laboratorium dan kampus terkemuka dunia. Mereka bukanlah orang yang lupa akan tanah air, tapi justru merekalah para pejuang sains Indonesia. Sebagian dari mereka memiliki alasan kenapa belum bisa pulang ke tanah air, diantaranya adalah:

  1. Tidak adanya penghargaan yang cukup dari pemerintah dan bangsa Indonesia terhadap profesi peneliti, baik itu penghargaan secara moral maupun secara material,
  2. Tidak adanya fasilitas penelitian yang bisa digunakan untuk menjalankan kegiatan penelitian mereka,

Dua alasan utama tersebut membuat banyak para jenius Indonesia kurang berminat untuk pulang ke tanah air,  mereka berpikir buat apa pulang ke tanah air kalau mereka tidak lagi bisa berkarya, atau bahkan karya mereka tidak dihargai  oleh bangsa sendiri. Namun, bukan berarti bahwa nasionalisme mereka telah luntur, karena meski bekerja di tanah orang, mereka sebenarnya adalah duta bangsa Indonesia. Mereka telah banyak membuktikan bahwa orang Indonesia mampu bersaing dengan setara bahkan bisa melebihi kemampuan bangsa lain.

Saya justru melihat nasionalisme WNI ini sangat besar, ketika menjelang 17 Agustus mereka menyemarakkan berbagai kegiatan di kedutaan, bahkan melebihi acara-acara di tanah air sendiri, dan ketika tanggal 17 Agustus tiba, mereka selalu meluangkan waktu untuk datang mengikuti upacara, hal yang terkadang bagi kita di Indonesia sering disepelekan. Lalu pernahkan hati kita bergetar mendengar/menyanyikan lagu Indonesia Pusaka? banggakah kita menyanyikan lagu Indonesia Raya? semua hal yang terlihat sepele bagi kita yang tinggal di Indonesia justru terasa sangat menyentuh bagi WNI intelek kita di negara orang.

Saya yakin, mereka akan sangat bersedia untuk pulang ke tanah air dan berkarya langsung di negara sendiri, ketika bangsa kita, ketika pemerintah kita secara terbuka mau memberikan penghargaan atas karya mereka secara layak dan menyediakan fasilitas penelitian yang bisa mereka gunakan untuk mengaplikasikan bidang keilmuan mereka untuk kepentingan Indonesia secara langsung.

Dirgahayu Indonesiaku ke-65, Merdeka!!

9 Balasan ke Lunturkah Nasionalismemu WNI di Luar Negeri?

  1. setyobudianto mengatakan:

    Merdeka…, sangat inspiratif bagi saya yang tinggal di Indonesia, untuk lebih mendarmabaktikan bagi kejayaan Bangsa Indonesia

  2. nadiafriza mengatakan:

    luntur? kata siapa? sering kali orang2 yang saya kenal, malah pada pengen balik ke Indo lagi setelah beberapa tahun di luar negeri saking cinta nya sama Indo🙂

  3. FiiYaa mengatakan:

    Sepertinya mau sejauh apapun mereka pergi..
    mereka tetap mencintai negeri ini

    Btw..
    Link na dah saya taruh di blog saya ya mas🙂

  4. Ery Wijaya mengatakan:

    @Pak Setyo Budi: terima kasih Pak, semoga kita bisa memberikan yang terbaik yang kita bisa

    @Nadia:ya emang iya gak luntur😛

    @Fiiya: oke deh, aku add juga ya

  5. Hari Mulya mengatakan:

    mereka saja yang ada diLuar sana kecintaannya ga luntur, kita yang ada di daLam sini harus lebih mencintai Indonesia…

  6. Ery Wijaya mengatakan:

    Benar bos Hari, mestinya yg di tanah air lebih semangat😉

  7. hedy risman mengatakan:

    Mau tanya mas erry,

    1. apa yg di lakukan peneliti atau mahasiswa2 yang kuliah di luar negeri untuk memberikan sumbangsih demi kemajuan bangsa indonesia (termasuk sampean sendiri)?

    2. Rencana mas setelah mendapat gelar doktor di kyoto univ?

    Terima Kasih mas
    wass wr wb

  8. erywijaya mengatakan:

    Pak Hedy Ysh,

    1) Kami mahasiswa dan peneliti di LN biasanya mengadakan diskusi tentang Indonesia, mengenalkan juga Indonesia ke orang asing. Selain itu masing2 individu tentu mempunyai riset sendiri2, beberapa banyak yg mengadakan riset ttg Indonesia, termasuk saya sendiri yang meneliti sektor kelistrikan di Indonesia

    2) Setelah menyelesaikan studi doktor tentu saya ingin mengabdikan ilmu saya untuk kemasyalatan umat manusia.

  9. iwan mengatakan:

    Luntur ??? Tidaaaaaaakkkkkkkk, kami tetap bangga sebagai bangsa indonesia. yg mana telah menjadikan kami sebagai tenaga ahli di negara lain meskipun hanya dianggap local people di negara sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: