Antara Kyoto-Tokyo dan Kartasura-Surakarta

Sekilas kalau kita jeli melihat nama kota Kyoto dan Tokyo, itu hanyalah pertukaran huruf saja. Begitupula kota Surakarta dan Kartasura, terdengar mirip-mirip dan berkebalikan. Memang faktanya sejarah keempat kota itu hampir sama, yakni pernah/sedang menjadi Ibu kota negara. Secara sederhana, bisa dikisahkan bahwa Tokyo adalah ibu kota baru setelah pindah dari Kyoto, begitu pula Surakarta adalah ibu kota kerajaan yang baru setelah pindah dari Kartasura. Namun sejatinya kisah pemindahan Ibu kota dua bangsa yang berbeda ini tidaklah sama, tapi sangat menarik untuk kita pahami untuk menambah pengetahuan sejarah kita.

Kartasura dan Surakarta

Kasunanan Kartasura adalah sebuah kerjaan di pulau Jawa sebagai kelanjutan kerajaan Mataram Islam. Pada masa Amangkurat I adalah raja terakhir Kesultanan Mataram yang memerintah dengan sewenang-wenang sejak tahun 1645. Pada tahun 1647, Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Pleret. Ia terlibat perselisihan dengan putranya sendiri yang menjabat sebagai Adipati Anom. Pada tahun 1670 Adipati Anom menggunakan Trunajaya dari Madura sebagai alat untuk melakukan kudeta terhadap ayahnya itu. Pemberontakan Trunajaya yang semakin besar membuatnya sulit dikendalikan lagi.

Amangkurat I wafat di Tegalarum pada 1677 ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Ia sempat berwasiat agar Adipati Anom meminta bantuan VOC untuk menumpas Trunajaya dan merebut kembali takhta. Adipati Anom kemudian menjadi raja dengan gelar Amangkurat II. Ia sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya yakni tahun 1680, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura, sekitar 5 km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar. Mulailah babak baru tumbuhnya kota Kartasura.

Kisah kerajaan Mataram di Kartasura sangat panjang, hingga akhirnya kerajaan dipimpin oleh Pakubuwono II. Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa di Batavia yang menjalar sampai ke seluruh Jawa. Mula-mula Pakubuwana II mendukung mereka. Namun ketika melihat pihak VOC unggul, ia pun berbalik mendukung bangsa Belanda tersebut. Perbuatan Pakubuwana II justru membuat kekuatan pemberontak meningkat karena banyak pejabat anti VOC yang meninggalkannya. Akhirnya pada tanggal 30 Juni 1742 para pemberontak menyerbu Kartasura besar-besaran. Pakubuwana II pun melarikan diri ke Ponorogo, lalu VOC berhasil merebut kembali Kartasura. Pada akhir tahun 1743 Pakubuwana II kembali ke Kartasura namun kondisi kota tersebut sudah hancur. Ia pun memutuskan membangun istana baru di desa Sala bernama Surakarta, yang ditempatinya sejak tahun 1745.

Kyoto dan Tokyo

Pada akhir periode Nara, ketika pengaruh agama Budha menjadi sangat kuat dalam kekuatan pemerintah Imperial, Kaisar Jepang memilih untuk memindahkan Ibu kota ke daerah yang sangat jauh dari pengaruh Budha. Tepatnya pada tahun 794, Kaisar memilih desa Uda, di distrik Kadono di Yamashito Provinsi, untuk kehormatan ini. Daerah baru ini kemudian di sebut Heian-kyō artinya ibu kota yang tenang dan damai. Masa ini menjadi permulaan periode Heian dalam sejarah Jepang. Kota itu kemudian dinamakan Kyoto artinya ibu kota.

Kota ini mengalami kehancuran dalam Perang Onin dari 1467-1477, dan tidak benar-benar pulih sampai pertengahan abad ke-16. Pertempuran antara faksi-faksi samurai tumpah ke jalan-jalan, melibatkan kaum bangsawan dan faksi-faksi agama juga. Rumah-rumah bangsawan berubah menjadi benteng, penggalian parit di seluruh kota untuk pertahanan dan sebagai penahan serangan api. Perang ini menyebab banyak bangunan hancur dibakar.

Kyoto menjadi ibu kota Jepang selama 1000 tahun, hingga pada tahun 1868 dimana saat terjadi masa Restorasi Kerajaan atau yang terkenal sebagai Restorasi Meiji, lalu ibu kota dipindah ke Edo. Edo yang merupakan ibu kota baru Jepang kemudian diubah namanya menjadi Tokyo, yang berarti ibu kota bagian timur. Oleh karenanya kemudian Kyoto juga pernah terkenal dengan sebutan Saikyo yang artinya ibu kota bagian barat.

*diolah dari berbagai sumber

 

 

5 Balasan ke Antara Kyoto-Tokyo dan Kartasura-Surakarta

  1. titis mengatakan:

    keren euy,,dapet aja sumber² kerajaan gitu :p

  2. Sri Rachmad mengatakan:

    tak kenal sejarah ….. maka tak kenal dirimu sesungguhnya…sii…iip mas Ery tulisannya…jempol wis

  3. koeshariatmo mengatakan:

    mantep eksplorasi datanya…salut mas

  4. masyhury mengatakan:

    Complit abis!!!
    Gak nyangka ke 4 kota tu punya nama yg hampir sama dan sejarah gak jauh beda..
    hemm,, teliti sekali sepertinya mas ini..🙂

  5. Debora Pakpahan mengatakan:

    kyoto-tokyo. mohon informasi tentang buku y berkaitan.onegaishimasu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: