Habibie & Ainun: Meretas Pembangunan Teknologi Tinggi di Indonesia

Kira-kira awal bulan lalu saya mendapatkan kiriman dari seorang sahabat yang bekerja di Komisi Yudisial, kiriman yang berisi buku berjudul Habibie & Ainun. Buku ini ditulis sendiri oleh mantan Presiden ke-3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habiebie, beliau punya nama panggilan Rudy. Rudy mempersembahkan buku ini untuk mendiang istrinya, Hasri Ainun Habibie, yang telah lebih dahulu dipanggil kehadirat yang kuasa setahun yang lalu. Sejatinya buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Rudy selama bertemu dengan Ainun, menikah lalu hingga sebelum Ainun meninggal dunia. Namun karena habibie adalah seorang teknokrat, sadar atau tidak dalam beberapa bab dari buku ini banyak membahas tentang perjalanan karir akademik, sebagai seorang engineer, hingga sebagai pejabat negara.

Masa Mahasiswa

Rudy sebenarnya berkenalan dengan Ainun ketika mereka sama-sama masih SMA, Ainun adalah adek kelasnya.  Namun kedekatannya secara perasaan dengan Ainun dimulai ketika dia berlibur pulang ke Bandung dari kuliah doktoralnya di RWTH Aachen, Jerman. Ainun saat itu yang sedang menempuh studi di Fakultas Kedokteran UI juga kebetulan sedang libur dan pulang ke rumahnya di Bandung. Liburan 3 bulan yang dimiliki Rudy membuahkan hasil manis, dia menyunting Ainun menjadi pendamping hidupnya, lalu memboyong Ainun ke Jerman untuk menemaninya menyelesaikan riset doktoralnya.

Pada awalnya Rudy mengerjakan penelitian tentang desain konstruksi kapal selam yang mampu menyelam di bawah 300 meter di bawah permukaan laut. Penelitian ini merupakan pesanan dari Departemen Pertahanan Jerman Barat, alhasil karena untuk kepentingan militer, maka seluruh hasil penelitian menjadi hak milik pemerintah Jerman Barat. Oleh karenanya, hasil penelitian itu tidak bisa dia pakai untuk diajukan sebagai disertasi doktoralnya.

Professor pembimbing Rudy lalu mengusulkan dia untuk melakukan penelitian baru tentang pengembangan metode perhitungan tegangan akibat pemanasan kinetik pada sayap pesawat terbang yang terbang dengan kecepatan 3 kali dari kecepatan suara. Professornya mengusulkan penelitian ini karena beberapa tahun sebelumnya ada tim peneliti yang melakukan penelitian pada bidang tersebut lantas dianugerahi Nobel, maksud dari Professornya adalah dia ingin Rudy memperbaiki metode yang ditemukan oleh tim tersebut. Rudy tertarik mengerjakan usulan pembimbingnya, dengan syarat bahwa bila dia berhasil maka dia diijinkan untuk menjadikan penelitian itu untuk ditulis menjadi disertasinya.

Menjadi Seorang Engineer

Selepas menyelesaikan studi doktoralnya, Rudy ditawari untuk menjadi peneliti di RWTH Aachen untuk melanjutkan penelitian doktoralnya. Namun dia lebih memilih untuk menjadi praktisi di dunia penerbangan,  dan ada banyak tawaran dari industri pesawat terbang yang masuk untuk meminang dia menjadi bagian dari mereka, termasuk Boeing. Lantas dia memutuskan untuk menerima tawaran untuk bekerja di HFB di Hamburg.

Karirnya menanjak dengan gemilang berkat kecerdasan yang ia miliki. Pekerjaannya berkaitan dengan konstruksi ringan pesawat terbang mendapat apresiasi dari berbagai pihak baik di internal perusahaan maupun di luar. Berkat hasil kerjanya HFG memenangkan banyak proyek dari pemerintah Jerman. Dalam waktu singkat Rudy berhasil menjadi Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi. Berkat pekerjaannya yang cemerlang, prestasi dia terpantau oleh Presiden Suharto. Kelak Presidenlah yang meminta dia untuk pulang ke tanah air mengembangkan teknologi tinggi di Indonesia.

Pembangun Teknologi Indonesia

Pengalamannya bekerja di Jerman Barat dibawanya pulang ke tanah air. Melalui kewenangan yang diberikan oleh Presiden Suharto, Rudy membuat perencanaan jangka panjang industri strategis nasional, meliputi industri persenjataan, telekomunikasi, maritim, dan pesawat terbang. Terbentuklah PT. PINDAD, PT. PAL, PT. LEN, dan PT. IPTN yang menjadi andalan Indonesia pada masa itu. Berjuta-juta USD dikeluarkan untuk mengembangkan industri tersebut, terutama dalam tahap penelitian dan pengembangan (R&D).

Rudy mempunyai bayangan bahwa Indonesia harus menguasai teknologi tingkat tinggi (advanced technology) agar mampu bersaing dengan negara lain, namun sesuai dengan kebutuhan nasional Indonesia. Terutama di bidang industri pesawat terbang, Rudy berhasil membawa IPTN menciptakan pesawat ketiga dunia yang menerapkan teknologi fly by wire (seluruh kendali dilakukan oleh komputer).  Pesawat ini berhasil terbang pada uji coba di depan publik pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 1995. Di harapkan pesawat tersebut akan dikomersialkan pada tahun 2000.

Pesawat N-250 (kiri) dan Pesawat ATR 72-500 (kanan)

Namun, rencana-rencana pengembangan teknologi tinggi Indonesia hanya tinggal rencana ketika badai krisis moneter melanda Asia termasuk Indonesia di tahun 1997-1998. International Monetary Fund (IMF) yang membantu Indonesia dengan memberi talangan utang, mensyaratkan penghentian dream program tersebut. Begitu juga program pengembangan teknologi strategis lainnya. Akibatnya sekarang riset-riset yang pernah dilakukan berhenti dan para ahli Indonesia banyak yang terpaksa bekerja di luar negeri akibat tidak adanya lagi pekerjaan.

Bagi Rudy, penghentian industri strategis nasional sangat disayangkan olehnya, karena butuh waktu yang panjang dan biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit beserta para ahli yang telah didik oleh bangsa yang baginya adalah modal yang tiada ternilai harganya. Dia mensinyalir penghentian program itu hanyalah trik dari bangsa barat yang tidak mau melihat kemajuan bangsa Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah industri penerbangan barat yang terkejut dengan perkembangan IPTN.

Pesawat terbang N-250 yang 100% dirancang dan dibuat oleh putra putri Indonesia diproyeksikan menjadi pesawat terbang tercanggih di kelasnya, dengan 70 tempat duduk. Pesawat ini menjadi pesaing berat pesawat ATR produksi konsorsium Itali-Prancis Aerei da Trasporto Regionale. Pesawat jenis ATR ini sekarang digunakan oleh perusahaan penerbangan tanah air Wings Air untuk melayani penerbangan jangka menengah dengan jumlah penumpang yang tidak terlalu tinggi seperti Jogjakarta-Bandung atau Jakarta-Bandung. Di tahun 2005, ketika Rudy akan menghadiri peringatan ke-50 KTT Asia Afrika, ia menggunakan maskapai yang menggunakan pesawat ATR, dalam hatinya dia menangis, dia membayangkan andai saja IMF tidak menghentikan pengembangan N-250, maka saat ini Indonesia akan bangga dengan produknya sendiri.

 

Iklan

33 Responses to Habibie & Ainun: Meretas Pembangunan Teknologi Tinggi di Indonesia

  1. citra berkata:

    great book, i’ve read it. Sabtu lalu beliau hadir di Gramedia dan Gunung Agung, tp sy blm berjodoh untuk bertemu beliau sepertinya.. *gara2 hp mati 😀

  2. masyhury berkata:

    Wah… keren ya cerita sukses seorang BJ Habibie.
    Memang tokoh yang patut di kagumi, tapi sayang sekali masyarakat kita banyak yang tidak mendukung cara berfikirnya masa reformasi dulu.. 😀

  3. ardiawati170483 berkata:

    Aku pernah ketemu pak Habibi waktu Kemah Pertukaran Pemuda di Cibubur, orangnya lucu.. hehe.. 🙂
    Semoga ada Habibi2 lain, yang bisa membawa bangsa ini menerapkan teknologi tinggi dimasa mendatang.
    Siapa tau kamu… 🙂
    Insya Allah…

  4. niQue berkata:

    ahhhh … jadi nyesel deh.
    kemarin itu belanja buku, sempet sih ngelirik buku itu, tapi g tau kok milih buku yg lain, yg setelah dibaca di rumah malah kecewa hiks …

    *jadinyeselbacareviewini LOL*

  5. Wandi Sukoharjo berkata:

    1. Kayaknya, sampean akan bisa menyaingi kepopuleran pak Habibi dengan bukunya kemarin itu mas 😆
    2. OOT, apa di situ kena tsunami juga?

  6. erywijaya berkata:

    @ Citra: beli HP dua biar gak mati :p
    @ Mashury: Ya, sepertinya beliau lebih cocok jadi teknokrat dari pada politisi
    @ Ardi: siapa?saia?hahahaha masih banyak yg lainnya
    @ Lia : 🙂
    @ Nique: Oh iya buku biografi memang menarik mbak dibaca
    @ Pak Wandi: alhamdulillah aman Pak di sini

  7. giewahyudi berkata:

    Jadi sedih kalau inget meninggalnya Bu Ainun.. 😦

  8. Pencerah berkata:

    biografinya bagus…
    saya memang suka dengan pak habibie dari kecil

  9. joko santoso berkata:

    mungkin hanya beberapa orang saja di indonesia ini yang sehebat beliau

  10. rieza berkata:

    semoga km adlah salah satu dr habibi d ms dpn.amin ya robbal alamin,,,kami bangga:)

  11. erywijaya berkata:

    @Giewahyudi: ya mereka the real romeo&juliet
    @Pencerah: Pak Habibie, panutan bangsa Indonesia 🙂
    @Pak Joko: ya benar Pak, jarang sekali
    @Rieza: hehehehe belum sekelas beliau

  12. giewahyudi berkata:

    Ada enggak ya yang seromantis mereka?

  13. adeknya ragna berkata:

    ada gak y habibie & ainun versi selanjutnya??

  14. ardiawati170483 berkata:

    @ Ery : hrs optimis

  15. melly berkata:

    Aku belum pernah baca buku pak Habibie yg ini, katanya bagus ya?

  16. yusami berkata:

    sejak kecil saya idolakan beliau, kayaknya saya harus mendapatkan buku tentang beliau ini.

  17. adetruna berkata:

    Ingat Habibie ingat PT DI, Pesawat Tetuko, Timor Leste Merdeka 🙄

  18. Devi Yudhistira berkata:

    Belum beli juga, tp sudah masuk wish list…
    banyak yg bilang sih bagus…

    selalu terharu dengan cerita habibie&ainun…

  19. nuke berkata:

    ditunggu the real romeo&juliet selanjutnya…udah versinya pak Ery aja…hahaha…

  20. amu berkata:

    Aq dah beliB-) …btw pak habibie n bu ainun crta mereka lbh indah d banding romeo n juliet xixi

  21. Hendra berkata:

    salam kenal.

  22. Sya berkata:

    Koq dari review-nya keliatan lebih menceritakan kehidupan Habibie ya. Saya mengira akan lebih banyak menceritakan kehidupan percintaan Pak Habibie & Ibu Ainun sesuai dengan judul bukunya.

  23. Ery Wijaya berkata:

    @Sya: ya sebenarnya bercerita tentang peranan Bu Ainun dalam mendampingi Pak Habibie. Cuman dalam perspektif saya, saya lebih suka melihat peranan Pak Habibie dalam pembangunan teknologi di Indonesia

  24. Edoh berkata:

    Keren ya pak Habibie….,

    akan tiba waktunya bagi Indonesia untuk bangkit….,

    insya 4wl…,

  25. miss DC berkata:

    Semoga kisah pak Ery nantinya bs semenarik kisah pak Habibie

  26. jasmineamira berkata:

    great book and great story!
    sebenernya blm pernah baca bukunya sih, tp waktu itu pernah diceritain dan sampe sekarang makin penasaran jadinya :mrgreen:

  27. erywijaya berkata:

    @Edoh: Ayo mari!
    @Putri: Lekas bergegas menuju toko buku, beli, keburu kehabisan 😀

  28. siho berkata:

    setelah membaca buku ini, saya mengerti mengapa habibie begitu tak kuasa menangis pilu ditinggal ainun.

  29. iiNgreeN berkata:

    hmmm… saya punya- tapi masih diplastikin nih buat kado.. 😛 pengin baca

  30. basir berkata:

    sip…akhirnya bs baca juga ringkasan ceritanya…smoga ntar dpt bukunya, ada yg bersedia ngasi kado bukunya, hehee… 🙂

  31. m-amin berkata:

    Hasil penelitian dari Pak Habibie sudah masuk dalam buku-buku terbitan terkenal di taraf Internasional. Salah satu bukunya yang saya miliki adalah mengenai kekuatan material lebih kuat untuk daerah plastis dari pada elastis dari segi kelelahan material.

  32. Rainia Cahaya berkata:

    Habibie menulis buku ini untuk mengikis kepedihannya yang mendalam atas kepergian istrinya tercinta. Such a great love…, though, I never finished reading it 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: