Mengukur Cita-cita; Faktor Keluarga dan Ambisi

Bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, agama, karier dan ambisi membuat saya punya banyak pengetahuan tentang cara pandang masa depan setiap individu. Diakui atau tidak, faktor-faktor yang saya sebut di atas banyak mempengaruhi tata cara kehidupan seseorang dalam merengkuh kesuksesan.  Ibarat pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Meski, ada juga beberapa orang yang keluar dari pakem yang lumrah tersebut.

Barometer

Adalah sebuah hal yang lumrah ketika kita mencoba melakukan analisa general karakter dari alumni sebuah universitas. Dari sebuah perbincangan di milis alumni kampus biru (alias kampus ndeso) beberapa waktu yang lalu, kami mengidentifikasi karakter alumni kami adalah orang yang biasanya rendah hati, tidak suka menonjolkan ambisi diri sendiri, loyal, suka menghindari persaingan yang kompleks dan kurang begitu aktif menjalin jaringan (maklum tipikal orang ndeso). Meski demikian, secara kemampuan, alumni kampus ndeso ini tidak kalah dengan kampus kuning dan kampus cap gajah duduk.

Usut punya usut, berdasarkan investigasi resmi yang dilakukan oleh pihak kampus ndeso, ternyata hal tersebut dilatar belakangi oleh faktor keluarga. Mayoritas mahasiswa kampus ndeso berasal dari keluarga abdi negara (PNS-red), dengan lebih spesifik mayoritas berasal dari keluarga guru. Dorongan dari keluarga akhirnya menular juga kepada si anak, begitu lulus, maka banyak yang memilih berkarier sebagai abdi negara.

Menjadi abdi negara di mata masyarakat identik dengan pekerjaan yang memiliki kemapanan hidup, karena bebas PHK, meskipun secara finansial tidak melebihi pekerjaan di sektor swasta (secara general, di kementrian yang belum menerima remunerasi-red). Diakui atau tidak, kenikmatan atau kemapanan menjadi PNS ini mengantarkan beberapa orang tua untuk mendorong anak-anaknya menjadi PNS juga mengikuti mereka.

Berbeda dengan lingkungan keluarga di kampus kuning dan kampus cap gajah duduk. Mungkin karena faktor lokasi, banyak dari mereka berasal dari keluarga entrepreneur atau keluarga yang bekerja di perusahaan multinasional. Mental-mental mahasiswa yang masuk di kampus itu sudah ditempa oleh kebiasaan keluarga yang aktif, suka bersaing secara langsung dan kompleks, tidak takut untuk menonjolkan diri, dan aktif dalam menjalin jaringan. Jiwa entrepreneur dari keluarga mereka pada akhirnya menular dan menjadikan alumni dari kampus dua kampus ini banyak yang menjadi pengusaha sukses.

Pakem Keluarga

Minggu ini, saya bercakap dengan seseorang yang baru saya menyelesaikan studinya di kampus ndeso. Tapi dia beruntung dan merasa bersyukur dengan barometer keluarganya yang selalu mendobrak nilai kemapanan. Ayahnya seorang entrepreneur dan alumni perusahaan multinasional. Dalam hidupnya dia dianugerahi pola pikir yang dinamis dan penuh ambisi yang positif. Alhasil, takaran nilai kesuksesannya dalam berkarir berbeda dengan rata-rata alumni kampus ndeso yang lainnya, sebentar lagi dia akan berkarir di bidang energi fosil, dengan target karir yang menantang.

Minggu sebelumnya, saya berdiskusi di milis alumni kampus ndeso, tentang motivasi diri dalam berkarir. Ternyata ada juga alumni dari kampus ndeso yang tipikalnya ingin meniru kampus kuning dan kampus cap gajah duduk. Latar belakangnya bukan dari entrepreneur atau yang bekerja di perusahaan multinasional, tapi dia berasal dari keluarga abdi negara. Ayahnya seorang alumni hukum di kampus ndeso yang memilih jalan hidupnya sebagai seorang guru. Ternyata dia tidak puas dengan keadaan keluarganya, tidak ada yang salah sebenarnya, karena keluarganya adalah keluarga besar alumni kampus ndeso. Tapi dia tidak puas dengan pencapaian dalam keluarganya yang hanya begitu saja, padahal dia yakin secara kemampuan keluarganya bisa jauh lebih maju. Dia punya pilihan yang berbeda dengan keluarga besarnya, pilihan untuk berkarir di perusahaan multinasional bersaing dengan alumni dua kampus unggulan lainnya itu.

Saya dan Masa Depan

Berasal dari keluarga abdi negara dan guru, mengajarkan saya untuk sebenarnya tidak menjadi orang yang menonjol secara pribadi. Rasul mengajarkan bahwa melanjutkan pekerjaan orang tua adalah hal yang mulia. Tapi terlanjur kepalang, saya sudah menjadi orang yang ambisius (dalam hal yang positif-red) karena pengaruh lingkungan baru. Saya kini menjadi individu yang mempunyai target-target yang sensasional dalam ukuran kemampuan saya pribadi. Saya masih ingin menikmati suasana ilmiah di pusat-pusat ilmu terkemuka, dan ingin menjelajahi benua kulit putih.

Apakah saya tidak ingin pulang ke tanah air? Apakah saya kehilangan nasionalisme saya?

Tentu saja masih cinta tanah air, pengabdian kepada bangsa tidak serta merta ditentukan oleh locus (tempat-red) yang bersangkutan, tapi oleh kontribusi nyatanya pada negeri, entah di manapun dia berada (Muhammad Nur, Mendiknas RI, 2010). Saya pasti akan pulang dalam target usia dan pencapaian tertentu, berharap bisa pulang untuk melanjutkan pekerjaan Ibu saya, menjadi abdi ilmu, walau belum tentu menjadi abdi negara.

 

27 Balasan ke Mengukur Cita-cita; Faktor Keluarga dan Ambisi

  1. Lailah Ikom mengatakan:

    bhasax ckup mudah d cerna,,:D

  2. kang ian dot com mengatakan:

    walah semangat semangat
    saya juga latar belakangnya ya cuma buruh tani saja wong ndeso juga tapi semangat mah harus tetep membara.. kalau istri memang abdi negara alias guru😀

  3. marsudiyanto mengatakan:

    Jolali mikir jodo Er

  4. Atika Luthfiyyah mengatakan:

    seperti biasanya, kata2 kak ery mengalir. kalo kampus cangkul gimana kak? hehehehehe…

  5. ardiawati170483 mengatakan:

    menurutku faktor utama yg sangat mmpengaruhi ambisi seseorang adalah lingkungan. meskipun dia orang ndeso, kalo sehari2 bersosialisasi dengan org2 yg berfikiran maju dan kompeten dibidangnya, secara tidak disadari dia juga akan merubah cara pandang dan ambisinya…
    *kuwi jare koncoku lho.. hehe…🙂

  6. erywijaya mengatakan:

    @Lailah: terima kasih
    @Kang Ian: benar kang, tetap semangat!
    @Pak Mars: iya lha ini lagi dipikir Pak hehe
    @Atika: kampus cangkul kan lebih pleksibel hehe
    @Ardi: yak tull, bisa jadi seperti itu

  7. Necky mengatakan:

    terima kasih atas kunjungannya mas…salam kenal sekalian saya mau tukeran link (kalau tidak keberatan).

    Saya pernah membahas profil alumni ketiga kampus ini sama teman (yang bukan dari alumni ketiganya…) dan itu sudah lama sekali kejadiannya. Membaca ulasan sampean…saya jadinya inegt lagi deh.

    Pernah teman saya lapor…selesai interview dia bilang kampus biru bikin pasaran kacau..karena nrimo aja dikasih gaji berapapun…..hehehehehehe…

  8. erywijaya mengatakan:

    Oke mas, nanti saya link

  9. Yudan F mengatakan:

    tips yang menarik🙂

  10. DIKMA SI JUMBO mengatakan:

    wah.. mantap mantap!

  11. Iksa mengatakan:

    Kampusku juga biru dan ndeso ..
    tapi *pakegebukankasur*
    …..

  12. saif569 mengatakan:

    goog job bro….wkwkkwkww

  13. freya mengatakan:

    Intinya, semua itu tergantung dari diri masing-masing. Belum tentu semuanya karena pengaruh lingkungan, dll.

  14. Asep mengatakan:

    Success is my right,

    salam
    nice info

  15. giewahyudi mengatakan:

    Saya sukses karena saya mau..

    Semangat kawan..

  16. devitrie mengatakan:

    wah tulisannya pas sekali dgn kondisi sy skrg. Kapan2 mgkn bs diskusi dgn mas ery ttg cita2. Mksh…

  17. aydachubby mengatakan:

    cita-cita disesuaikan dgn kemampuan masing-masing…😀

  18. Reza Saputra mengatakan:

    high language

  19. tutinonka mengatakan:

    Kampus ndeso itu kampusnya sang mahapatih itu ya? Memang saya pernah dengar, karakter alumni kampus ndeso itu low profile, mau disuruh kerja keras, gak banyak menuntut, padahal orangnya pinter-pinter. Kalau kampus gajah duduk pokoknya hantam dulu, perkara belakangan bingung menyelesaikan tugas, itu urusan nanti. Nah, kalau alumni kampus kuning beda lagi. Agak-agak arogan gitu ….
    Tapi ini cuma ‘katanya’ lho … maap kalau salah🙂

    Salam sesama alumni Mas …

  20. erywijaya mengatakan:

    @Bu Tuti: Wah salam KAGAMA kalau begitu hehehe…

  21. febri mengatakan:

    Bahasa indonesia nya baik sekali. Saya berasal dari kluarga abdi negara, dari dulu saya diarahkan untuk menjadi pns. Bukannya membangkang hanya saja saya memiliki ambisi dan cita2 sendiri, seperti yg dituliskan ada ketidakpuasan dgn pencapaian keluarga bkn secara materi. Senang akan tantangan, kompetisi dan menonjolkan diri (dlm karya). Setiap interview selalu ditanyakan background keluarga dan banyak perusahaan yg menolak setelah tau ortu sy pns pdhl saat melihat portofolio dan cv sy mereka sgt tertarik, sy tdk setuju dgn pepatah buah jatuh tdk jauh dr pohonya. Bagaimanapun manusia bukan pohon yg diam, ia bs berpindah tempat dan mendapat byk pembelajaran, pandangan hidup dan mental yg berbeda dr ortunya. Saat mulai bekerja pun selalu dikait2 kan dgn backgroun keluarga seperti “ini bukan pns, dll” untuk hal2 yg tdk ada kaitannya. Sulit sy akui, untuk merobek streotyping tsb, pd akhrnya hasil kerja, mental dan kemampuan akan merobeknya.

  22. Hans el Fire mengatakan:

    Ini merupakan salah satu posting yang Inspiratif menurut saya…

    Salam kenal ya

  23. krisma mengatakan:

    Go… Go… Mas Ery…😀

  24. Rahmah mengatakan:

    Personil kampus gajah duduk juga banyak yang ingin mengabdikan dirinya untuk negara kok mas. hehe😀
    salam kenal mas.. blognya bagus.

  25. erywijaya mengatakan:

    @Rahmah: salah satunya dirimu ya? Hehe makasih dah berkunjung🙂

  26. Rahmah mengatakan:

    eitss… saya kan gak bilang begitu mas.😀

  27. erywijaya mengatakan:

    @Rahmah: misalkan Bilang gitu juga gpp lho heheh..jadi abdi negara itu mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: