Saya Menemukan Agama Di Negeri Ini…

Kalimat itu ia ucapkan dengan berkobar-kobar penuh semangat, sambil matanya berkaca-kaca. Saya menatap air mukanya sebentar, lalu merenungkan kalimat demi kalimat yang ia ucapkan. Kalimat itu saya dengar dari Khatib shalat Jum’at di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka, Jepang, setengah bulan yang lalu. Agama yang sang Khatib maksud tida bukan tentunya adalah agama Islam. Sekilas, kalimatnya mengundang kontroversi, kenapa harus di Jepang? bukankah Jepang negara yang penduduknya tidak beragama dan percaya dengan Tuhan? kenapa tidak di Arab? negara tempat lahirnya Islam?

Spirit of Islam

Saya tak akan menyalahkan Anda jika memiliki keraguan atas pernyataan sang Khatib secara sekilas. Jepang memang negara yang mayoritas penduduknya hampir bisa dikatakan tidak beragama. Dalam sebuah obrolan ringan di Lab, seorang kawan nihonjin (orang Jepang) bertanya,

Eri-san, kenapa kamu Islam? kenapa kamu beragama? kenapa kamu takut dengan Tuhan? kenapa kamu percaya surga dan neraka? apakah ada yang bisa menjamin dengan beragama Islam kamu akan masuk surga?

Saya tersenyum mendengar pertanyaan mereka yang bertubi-tubi, saya berusaha menjelaskan dengan logika yang mudah dipahami oleh orang asing, karena bukan sekali ini saya berhadapan dengan orang asing yang bertanya tentang agama. Tapi, tak mudah memberikan penjelasan pada para gakusei (mahasiswa) ini, yang apa-apa harus dibuktikan dengan nalar dan di depan mata mereka.

Melanjutkan isi khotbah Jumat itu, orang Jepang memang tidak beragama, tapi orang Jepang menjalankan sikap dan etika hidupnya bagaikan orang yang beragama dengan taat, yang menghayati agamanya hingga ke seluruh nadi kehidupannya. Mari saya beri dua contoh; ketertiban (tepat waktu), dan ketekunan dalam bekerja.

Islam mewajibkan pemeluknya untuk menjalankan shalat tepat pada waktunya, dengan gerakan yang rapi dan seirama dengan imam. Makna lain dari waktu shalat dan gerakan dalam shalat adalah mengajarkan umat Islam untuk senantiasa tertib dan menghargai waktu. Pesan yang disampaikan dalam shalat, harapannya dapat diresapi hingga ke dalam kehidupan setiap insan muslim, di manapun berada. Tapi cobalah tengok, siapa yang lebih meresapi ajaran rahmatalillalamin ini? orang Jepang, dan bukan orang Islam.

Lalu, Rasulullah, mengajarkan umatnya untuk bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh seolah-olah kita akan hidup kekal selamanya, dan beribadah dengan tekun seolah-olah kita akan mati esok. Saya akan membahas kalimat pertama dari hadist rasul tersebut “bekerjalah dengan keras dan sungguh-sungguh”, benarkah orang-orang Islam telah bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh? iya, beberapa, tapi mayoritas dari kita merasa cukup dengan apa yang kita kerjakan, dan bahkan beberapa terlalu santai dengan pekerjaannya. Sedangkan orang Jepang, tanpa pernah diajarkan, mereka telah meresapi bahwa dalam setiap bekerja, mereka harus melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Minus Keimanan

Etos kerja, dan motivasi kehidupan dunia orang Jepang untuk menjadi lebih baik, jauh lebih islami di banding orang-orang Islam sendiri. Kejadian, gempa bumi dan tsunami pada 11 Maret lalu membuka mata kita akan kehebatan dan ketangguhan orang Jepang dalam menghadapi bencana. Meski susah payah dengan hantaman cobaan, mereka tetaplah pribadi yang ramah, tertib, teratur, bahkan saling membantu meski sama-sama kesusahan, dan yang lebih hebat lagi, mereka legowo dengan bencana alam ini.

Tak ada penjarahan, tak ada kerusuhan, dan tak ada yang memancing di air keruh dalam suasana bencana itu. Bahkan banyak pemilik toko yang dengan senang hati memberikan dan membagi-bagikan barang dagangannya; makanan, minuman, dan pakaian, secara gratis kepada tetangga dan orang yang membutuhkan. Padahal jelas, bisnis dia juga terkena bencana; toko dan beberapa barang dagangannya rusak karena gempa dan terjangan tsunami, tapi dia dengan tangan terbuka menyerahkan bantuan. Saling bantu membantu agar keadaan bisa cepat membaik seperti sedia kala.

“Pertunjukan” semangat dan sikap hidup yang mengangumkan warga Jepang disaksikan oleh seluruh warga dunia, termasuk warga muslim tentunya. Semestinya kita malu pada diri kita sendiri, semangat hidup seperti mereka yang “Islami” tidak ada dalam aplikasi kehidupan kita sehari-hari. Kita hanya unggul dalam keimanan, tapi sayang, tidak mampu mengaplikasikan keimanan kita dalam kehidupan yang nyata.

Saya menemukan agama di negeri ini…

Kalimat yang mencambuk saya, sebagai orang muslim.

 

25 Balasan ke Saya Menemukan Agama Di Negeri Ini…

  1. Iksa mengatakan:

    Negara jepang banyak menginspirasi, bahkan bagi yang belum pernah kesana .. apalagi yang mengalami langsung interaksi dengan rakyatnya dalam kehidupan sehari-hari …

  2. ardiawati170483 mengatakan:

    Dimanapun, bila Allah akan menurunkan hidayah tentu fikiran akan terbuka. Karena melihat kebiasaan orang2 disekitarnya,Yang taat beribadah dan bekerja keras. Meskipun di negara tersebut Islam bukan agama mayoritas. Itulah sebabnya kenapa kita tertinggal jauh dengan Jepang. Karena di masyarakat kita, antara ketaatan beragama dan etos kerja kurang seimbang… (semoga ini menjadi cambuk bagi kita untuk memperbaiki diri..)

  3. Pencerah mengatakan:

    komentku ilang

  4. Ery Wijaya mengatakan:

    @Pak Iksa: iyap benar Pak
    @Ardi:🙂
    @Pencerah: emang kemana bos komennya? gak ada yg ngilangin tuh, ditulis aja ulang klo ilang, gratis kok hehehe

  5. Nash Alwie mengatakan:

    Anda benar sekali,sikap hidup,etika dan moral Islami yg hakiki, telah tertinggal dibelakang umat Islam itu sendiri. Bukankah 22 tahun masa kenabian rasulullah SAW 15 tahunnya dihabiskan untuk menjejalkan moral, etika dan disiplin hidup sebagai sesama umat dan hidup berdampingan dengan umat non Islam. Yang harus digaris bawahi etika, moral, dan etos kerja dengan disiplin hidup yang tinggi ditindak lanjuti dengan sholat dengan segala aspeknya. Lalu bagaiman dunia Islam sekarang, lihat pemimpin-pemimpin yang menghancurkan negaranya sendiri, Irak, Afganistan, Libya, Mesir dengan korupsi dan menghianati sesama umat dan negara Islam. Lihat negara kita yang mayoritasnya umat Islam, toh yang nomor satu korupsinya. Perhatikan para pemimpin kita, yang kudu dilayani bukan melayani masyarakat. Mereka Islam kan, setidaknya diKTPnya begitu. Quo vadis Islam, dengan senjata nggak bakalan menang, dengan teror semakin dibenci masyarakat dunia, satu-satunya jalan kembalilah kepada Islam sebenarnya dengan moral, etika dan disiplin Islam. Gimanapun salut buat Anda yang menemukan Islam di Jepang, dalam etika, iman dan moral yang Islami, walaupun mereka bukan Islam. Dan saya pikir juga dinegara-negara non Islam negara-negara maju lainnya. Wassalam

  6. rieza mengatakan:

    saya sgt tersentuh dg penjabarannya,meskipun saya tggl n krja d ngara islam.tp sy blm pernah melihat hal sprt tu scra lgsg pd pendu2kny.Wallahuallam,,,,,,,,Alloh Maha Memmbolak balikkan hati manusia,siapa tahu dg kehidupan n perilaku mrka yg harmoni,sesuai dg ajaran islam slnjtnya hati mrka bs mengarah ke agama yg di ridhoi Alloh yaitu islam rahmatan lilalamin:)

  7. kamal mengatakan:

    ga banyak komen ah… mantapppppp bangettt postingannya…seenganya gw bisa dapet pencerahan disini.. thanks brother”

  8. kamal mengatakan:

    nice post nice story.. im like it “

  9. Queen mengatakan:

    Itu semua ada di generasi tua-akar budaya bangsamu Indonesia (Induk dr segala Bangsa-2 d dunia) sejak dahulu sdh ada (i.e. kolobis kontul barisnya dll). Karena tanpa semangat dan jiwa seperti itu dari dulu kita mungkin tidak merdeka dr kolonialisme jaman dahulu. Generasi muda yg sekarang mayoritas meng-copy dan hasil sejarah panjang kompeni. KKN yg mendarah daging kan warisan kompeni (360 thn) terjajah. Meski sekarang masih juga di jajah juga oleh negara-2 maju dengan kedok “Kapitalisme, Hak Azasi dan Demokrasi”. slm

  10. amu mengatakan:

    Setiap pengalaman adalah pembelajaran.smoga postingan ini menginspirasi qt mjd lbh baik hehehe thx Ery san..

  11. Abu Furqan mengatakan:

    Menurut saya tidak begitu juga, Pak. Pernyataan tersebut terlalu berlebih-lebihan. Islam memang mengatur tentang kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi, namun Islam juga mengatur banyak hal yang lain, yang secara umum belum bisa ditemukan di Jepang. Islam mengatur tentang tata pergaulan, di Jepang pergaulan pria-wanita sepertinya sangat bebas dan jauh dari Islami (itu yang terlihat dari serial-serial televisi dari Jepang, dan berita-berita tentang kehidupan Jepang). Contoh lain juga banyak.

    Ini opini saya.
    Abu Furqan

  12. Ery Wijaya mengatakan:

    Pak Abu, dalam beberapa hal memang iya kita lebih unggul, tapi dalam banyak hal kita tidak ada apa2nya dibanding mereka.

    Semestinya kita bisa jauh lebih unggul dari mereka, kita punya agama yang seharusnya bisa kita hayati untuk mendorong kita bisa berbuat lebih, tapi apa yang terjadi sekarang? Apa yang saya contohkan itu hal sederhana yg masif yg terjadi di negara2 muslim dibandingkan dengan di Jepang.

    Terima kasih sudah mampir🙂

  13. dheeasy mengatakan:

    Setiap pribadi -dinegara manapun- pasti akan memberi hikmah dari setiap sikap dan kata-katanya…
    Bukankah kita semua makhluk ciptaanNYA, dan bila berbeda dalam keyakinan ambillah yang baik dari mereka, dan berikan mereka “Cahaya Islam” yang indah yang akan menyempurnakan kebaikan yang mereka punya…

    Karena hanya Allahlah Sang Maha Pemberi Hidayah…

    Salam dari Indonesia…🙂

  14. giewahyudi mengatakan:

    Saya menemukan Tuhan di mana-mana..

  15. Aubergine mengatakan:

    menurutku siy ga ada hubungannya sama agama … tetapi budaya!!! … dijepang mereka sudah biasa hidup teratur, kesenjangan sosial disana pun tidak separah di indonesia… yg membuat terjadinya penjarahan itu kan karena memang status sosial yg sudah susah. ada kerusuhan/musibah alam, yah lgsg lah timbul otak2 kriminal. wong orang susah gitu loooh!!!

  16. inagoesti mengatakan:

    mau di israel sekalipun bisa aja menemukan tuhan klo mau nyari dan hidayah ada buat kita, diem di arab juga klo ga mau nyari tuhan dan ga dapet hidayah ya ga akan lah ketemu Tuhan..
    Ya Iyalah jepang udah makmur ga perlu ngejarah2..
    Pertanyaan cambuk untuk kita:
    “kita rela bangun sampe tengah malam untuk megang HP ato megang Alquran?
    Kita lebih sering mikirin Tuhan atau mikirin orang yg Kita sayang??”

  17. erywijaya mengatakan:

    @Aubergine: Budaya kan dipengaruhi juga oleh Agama, iya kan? Nah sejauh mana budaya kita terpengaruhi oleh Agama?
    @Inagoesti: Ini soal spirit,bukan soal Tuhan semata🙂 bukankah agama adalah pedoman hidup kita? Nah sejauh mana agama sudah mempengaruhi spirit dan budaya kita?

  18. kang ian dot com mengatakan:

    wah pasti pengalaman spiritualnya kena banget y mas hmm beda sama hidup di tengah komunitas yang ngakunya sih muslim tapi g tau deh hehe

  19. Ima mengatakan:

    Yg terjadi disini, banyak orang meninggalkan budaya karena alasan agama. Tidak banyak orang yang mau mengeksplorasi budaya bangsa, menjaga peninggalan sejarah apalagi melestarikannya. Yang lebih parah, masyarakat yang melestrasikan budaya lewat kesenian justru dianggap melanggar UU Pornografi dan Pornoaksi….
    Bahwa agama tidak pernah membelenggu pengikutnya untuk menjadi manusia yang kerdil dan merasa paling benar dari yang lain. Agama – dalam hal ini ISLAM, sesuai yang saya anut dan seperti apa katamu Er – adalah Rahmatan Lil Alamin. Agama apapun selayaknya kita hormati, karena dalam bentuk apapun semua tetap mengakui adanya TUHAN. – Tuhan itu SATU, kita yang tak sama – (kata MARCELL)

  20. Necky mengatakan:

    kang ery, kalau mau jujur yah. Kehidupan masyarakat di Amerika contoh: disiplin berlalu-lintas sampai kebersihan, bukannya ini sikap yang islami. Kalau kata rekan saya yang waktu itu tinggal di Amerika, sebenarnya mereka (baca:yahudi) sangat khawatir apabila orang-orang islam (muslim) menjalani kehidupannya sesuai dengan Al Quran karena orang muslim akan menjadi sangat powerful….dibandingkan di Indonesia, kita hanya berteori dan tidak mengimplementasikan semua ajaran dalam kehidupan kita semua….

  21. Ibnu Syarif Hidayat mengatakan:

    mari kita laksanakan ajaran agama kita dengan sebenar-benarnya bukan cuman di ranah teori saja, tetapi harus dengan aplikasinya. Salam kenal ya untuk pemilik blog ini

  22. fendrri mengatakan:

    Yang pasti orang Jepang juga makhluk Allah. Dan mungkin lewat mereka Allah mencoba mendidik kita. Wallahu’alam, tapi besar kemungkinan mereka akan jadi Muslim yang jauh lebih baik dari kita kalau kenal sama Islam. Perlu diingat bahwa sahabat Rasulullah hampir semuanya Mu’allaf. Makasih sharingnya Mas Ery.

  23. Civorezan mengatakan:

    Asatidzah dari Indonesia juga sering ngisi kajian di jepang a.l ustadz yazid pernah ngisi di Kobe.

  24. aya mengatakan:

    nice, eri san…

  25. wildan mtv mengatakan:

    semoga kita sadar akan hal itu karena islam sebenarnya lebih dulu mengajarkan kepada kita. hanya saja kita tidak mengapikasikan islam itu sendiri secara kaffah. dan semua itu dimulai dari diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: