Tak Perlu Terlalu Benci

Pernahkah Anda membenci sesuatu, lalu selalu berusaha menghindarinya? Tidak hanya Anda, pasti semua orang merasakan yang demikian. Ada banyak alasan untuk membenci sesuatu, mungkin dari hal yang remeh hingga yang complicated. Namun entah kenapa, banyak juga orang yang menyadari bahwa hal-hal yang pada awalnya mereka benci, kemudian malah menjadi bagian dari jalan hidup yang harus dijalani. Termasuk saya..

Kenyataannya terlalu banyak pelajaran yang saya benci, entah saya membencinya karena guru mengajarkannya tidak menarik, atau karena memang kemampuan otak saya yang serba terbatas. Sejujurnya saya mencintai pelajaran yang memerlukan hapalan, lebih berorientasi ke sosial dan tidak perlu terkekang dalam tata aturan yang rumit macam perkalian, pengurangan, dsbnya. Oleh karenanya saya suka pelajaran seperti Sejarah, Geografi, Biologi dan Agama. Nikmat rasanya mengikuti pelajaran yang demikian.

Sejatinya saya paling membenci pelajaran seperti matematika, fisika, dan kimia. Kemampuan otak saya dalam pelajaran “kaku” tidak terlalu kuat, dan terasa lambat dalam proses loading mengeksekusi setiap bahan pelajaran baru. Matematika agak terasa mendingan ketika yang guru yang mengajar mengasikkan macam Pak Marsudiyanto. Tapi terasa menjemukan apabila diajarkan dengan proses yang kurang menarik.

Anehnya, meski saya benci dengan pelajaran-pelajaran tersebut, saya toh akhirnya di kelas 3 SMA memilih penjurusan ke bidang IPA. Bahkan yang saya sendiri lebih heran, kenapa saya juga bisa melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Fisika. Padahal, lepas dari SMA, saya berharap bisa menjadi seorang Diplomat atau seorang Arsitek, sehingga saya menempatkan Teknik Fisika sebagai pilihan yang terakhir. Saya PD (Percaya Diri) untuk menjadi seorang Diplomat karena memang merasa passion dan ability saya ke arah situ.

Apa daya, Allah maha membolak balikkan fakta dan harapan hambaNya, jalan hidup saya jalani. Kepasrahan saya kian mendalam ketika ternyata jalan hidup saya harus bersentuhan dengan dua pelajaran itu lagi. Setelah sempat terseok-seok dalam “kubangan” ilmu fisika dan matematika selama 4 tahun, saya lulus juga dengan gelar tukang insinyur fisika. Dalam hati kecil saya memendam keyakinan bahwa mungkin ini jalan yang telah Allah pilihkan dan terbaik bagi saya. Mungkin bila saya menjadi seorang Arsitek atau Diplomat, saya tidak bisa seperti saat ini.

Kalau tak membencinya, mungkin tak akan menjadi bagian dari jalan hidup saya. Tapi tak perlu juga terlalu membenci sesuatu, karena siapa tau, kelak itu kan menjadi bagian jalan hidup kita.

11 Balasan ke Tak Perlu Terlalu Benci

  1. Ria mengatakan:

    hahaa…saya juga mengalaminya. saya ga suka pelajaran ekonomi, tapi sekarang malah mempelajarinya.
    teman yg dulu sy benci jg malah jd teman akrab.
    Jadi ingat kata2 ini ” jangan terlalu membenci sesuatu, boleh jadi itulah yg terbaik bagimu” cmiiw

  2. niQue mengatakan:

    eh iya tuh😀
    saya dulu juga membenci orangtua yang buka toko 24jam, sampai saya bilang dulu amit2 jangan sampai ngikutin jejak orang tua punya usaha 24jam, eh ndilalah sekarang kok ya punya usaha yang 24jam??? sebetulnya dulu itu saya benci CUMA karena jadi susah mau kemana2 bersama2, pasti selalu ada yang ditinggal di rumah agar toko tetap buka😀 kualat atau apa ya? Hahaha

    yak tul, lebih baik sedang2 saja ya, kan yang pake terlalu emang ga baek hehehe

  3. devitrie mengatakan:

    benci dan cinta toh juga kadang beda-beda sithik thok

  4. Endang Nuraini mengatakan:

    “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

  5. koeshariatmo mengatakan:

    lengkap sudah bila di dasari oleh dalil yang di tulis oleh mba Endang

  6. saif munjabi mengatakan:

    bener sekali bro…bila memang benci janganlah terlalu benci suatu saat kadang yg dibenci malah yg disukai dan bila suka jg jangan terlalu suka suatu saat pula yg disuka malah yg dibenci..seperti lagu saja…”sedang2 saja”…xixixi..

  7. argya mengatakan:

    saya juga mengalami hal yang sama, masa SMA tergila-gila dengan matematika dan sangat menjauhi kimia. Tapi saat kuliah, Kimia lah andalan saya dan matematika jauh-jauh dah dari dunia ^^

  8. rieza mengatakan:

    saya jg bgtu,plg suka pljaran menghafal………..eh wkt sma kls 3 msk ke jrusan IPA,tp g sy lnjtkan,krn sdh terlalu mmbnci pljran tu.ehhhhhhhhhh pas kuliah,malah masuk ke bidang yg basicnya begituan.rasa nya ga kuat.tp alhamdulillah smpe skrg sy bangga dg pekerjaan saya. intinya begini tho mz eric,BENCILAH SESUATU SEWAJARNYA,BLH JD SEWAKTU WAKTU KM MENCINTAINYA.DAN CINTAILAH SESUATU SEWAJARNYA,BLH JD SEWAKTU WAKTU KM MEMBENCINYA:)

  9. rani mengatakan:

    wahhh…iyaa..dulu pas sma juga paling gak suka geografi, malessss. S1?? Bisa dibilang bebas dari geografi. Kerja?? gak ada juga, walo jadi bikin2 peta ngawur2an. S2??? kuliah geografi!!! Tapi gak cinta juga sih, biasa aja. Gak cinta tapi gak benci🙂

  10. Necky mengatakan:

    kalau gitu dari sekarang benci banget punya banyak uang, benci banget punya karir kerja yang bagus…. hehehehe

  11. Rainia Cahaya mengatakan:

    The question is: why do we have to hate something/someone, even if it’s just a grain of dust? life is too short to waste time hating anyone ;P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: