Negeri Para Komentator

Salah satu pekerjaan yang paling menarik, prestige, dan aman di negara ini adalah menjadi komentator. Entah itu komentator bola, komentator politik, komentator moral, ataupun komentator apapun. Pekerjaan ini amat menarik banyak minat para pemuda, sedari dini hingga di bangku kuliah, mereka sudah mempersiapkan diri untuk menjadi komentator yang handal. Saking menariknya profesi ini, dunia kampus yang sebenarnya merupakan ajang untuk mengasah kompetensi diri dalam bidang keilmuan malah menjadi ajang latihan para komentator. Demo sana demo sini, teriak sana teriak sini. Ketajaman dalam berolah kata menjadi andalan para calon komentator agar mereka cepat laku kelak di dunia nyata. Semakin tajam dalam memberikan komentar, semakin banyak undangan menulis maupun berbicara yang akan mampir mengisi agenda hari-harinya.

Ya, inilah suasana negeri para komentator. Semua orang berlomba-lomba menjadi komentator terbaik dan tertajam, bahkan terkadang menghalalkan berbagai cara, menyerang hingga membolak balikan fakta agar makin mengkilap karirnya sebagai komentator. Menjadi komentator tak perlu mempunyai ijasah tingkat tertentu atau belajar di program studi tertentu, asal punya kemampuan untuk berolah kata dengan baik dan tajam, banyak orang yang suka mendengar atau membaca kritikan-kritikannya.

Menjadi komentator tidak mempunyai beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan menjadi pelaku. Taruhlah contoh, menjadi komentator politik, orang bisa berbicara dengan lugas, tapi menjadi pejabat pemerintah bukan perkara yang mudah. Tak banyak orang yang mau mencoba profesi menjadi pelaku setelah berprofesi sebagai komentator. Kemungkinan besar karena mereka khawatir tidak mampu membuat terobosan yang bagus saat menjadi pelaku, seperti yang selama ini mereka dengung-dengungkan sewaktu menjadi komentator. Atau dengan bahasa lebih diplomatis mereka mengatakan ranah keahlian mereka berbeda, atau bahkan terkadang mereka bilang bahwa ingin menjaga netralitas dan kesucian diri, sebab menjadi pelaku memiliki banyak godaan.

Itulah suasana negeri para komentator, negeri orang yang pinter “omong doang”, tapi realitas dalam melakukan aksi nol besar. Okelah, sebaiknya saya akhiri komentar tentang para komentator di negeri ini. Karena kalau terlalu panjang, saya takut juga di cap sebagai komentator, banyak omong tapi tak ada aksi hehehe…

12 Balasan ke Negeri Para Komentator

  1. lia mengatakan:

    🙂 no comment ah…

  2. monda mengatakan:

    Jadi, berlaku NATO ya di sini.

  3. Jakober mengatakan:

    lah, sampeyan bukannya sedang menjadi komentator juga mas?

    eh, aku juga ding

  4. qnoi mengatakan:

    haha.. exactly.. satu hal yang gw pelajari di sini (jepun) adalah ima no dekiru koto o yaru. lakukan apa yang bisa kita lakukan skarang.. jangan ngomel aja .. (walaupun ngomel itu enak yaaa.. hehehe.. :D)

  5. venusv3 mengatakan:

    kita sebagai generasi muda jangan cuma omdo,, tapi ayo semangat realisasikan semua uneg uneg kebenaran.. ^_^
    mampir mapir ya http://venusv3.wordpress.com

  6. amyu mengatakan:

    semoga qt bukan generasi ‘omdo’>> omong doang..

  7. Marchei Riendra mengatakan:

    Kaya iklan rokok,
    lets talks do more…hehehe😀

  8. argya mengatakan:

    iya mas, bener banget.. di tanah air sampe bosan setiap acara kebanyakan modalnya mulut… komen sana komen sini, mungkin diadaptasi dari acara gosip kali ya

  9. iiNgreeN mengatakan:

    kalau lirik lagu Tony Q Rastafara yang judulnya Republik Sulap begini:

    aku lahir di negeri sulap (negeri sulap)
    aku besar di republik sulap (republik sulap)
    negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja
    dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada

    bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz

  10. ruri mengatakan:

    hehe betuls

  11. Gift mengatakan:

    Q jadi komentator di blog aja😀

  12. obat vitalitas mengatakan:

    hehe. negeri para komentator asik juga artikelnya
    wasalam obat vitalitas cekidot😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: