Mahasiswa Gondrong

Di era dulu saat saya menjadi mahasiswa S1 teknik, rambut gondrong menjadi salah satu model populer yang digandrungi. Terkesan kurang nyentrik kalau mahasiswa teknik rambutnya rapi. Kenyentrikan itu sebenarnya untuk menutupi kesan bahwa mahasiswa teknik adalah orang yg tekun belajar, rajin membaca buku, dan otaknya berisi rumus-rumus. Padalah dibalik rambut gondrong itu, tersimpan juga makna bahwa mahasiswa teknik ingin dilihat saking rajinnya belajar maka sampai lupa potong rambut, dan yang lebih ngeri lagi, rambut gondrong itu membuktikan bahwa si mahasiswa teknik sedang mencoba menghemat diri tanpa perlu mengeluarkan biaya ke tukang cukur rambut. Alih-alih menghemat, malahan sebenarnya rambut yang gondrong itu justru lebih boros shampo. Makanya waktu itu hati-hati kalau berdekatan dengan mahasiswa teknik gondrong.

Seolah tak mau ketiggalan trend, saya juga pernah punya rambut agak gondrong. tapi berhubung tipe rambut saya indah (berombak-red), maka mungkin tak perlu terlalu panjang-panjang, karena nanti akan kesusahan dalam menata rambut. Dalam catatan sejarah, saya pernah mengalami rambut gondrong di tahun pertama kuliah, tepatnya semester 1 dan 2. Ketika itu terlihat keren kalau mahasiswa berambut gondrong. Hasrat saya mempelihara rambut juga didorong oleh aktivitas saya sebagai aktivis BEM di Mbulaksumur, Jogja. Makin cool sajalah tampang saya kala itu (menurut saya lho).

Sejak tahun ke-dua di tingkat S1 hingga S2, saya tak pernah lagi punya rambut panjang, dengan alasan utama adalah rambut panjang membuat kesuksesan mendapatkan jodoh makin tipis (ini pengalaman saya lho). Namun kali ini, saya mencoba menyuburkan rambut  agar tumbuh panjang kembali dengan alasan; 1) Ongkos potong rambut di Jepang sangat-sangat mahal, sekitar 500 ribu rupiah (potong plus cuci rambut), jika dibandingkan dengan di kampung, sekali potong rambut cuman 5 ribu rupiah, dan 2) agar saya masih terkesan seperti mahasiswa (alah kan memang masih mahasiswa hehehe), jadi menghindari kesan terlihat tampang orang serius, dan wajah boros .

Terhitung sudah setengah tahun saya tidak memotong rambut, entah sampai kapan bertahan dengan rambut panjang. Sebenarnya keuntungan punya rambut panjang adalah membuat kepala jadi lebih hangat saat winter tiba, dan kekurangannya adalah membuat kepala jadi gerah saat summer datang.

8 Balasan ke Mahasiswa Gondrong

  1. Atika Luthfiyyah mengatakan:

    jaelah kak..potong sendiri aja kak. krek krek krek jadi deh

  2. gendisabang mengatakan:

    kalo dulu disebutnya “gondrong berhati nyaman” ? :p

  3. Masyhury mengatakan:

    Wew… 500ribu??? mahal amat ya mas?
    bisa kaya tuh buka jasa tukang pangkas di jepang! hihi..🙂

  4. romi advant mengatakan:

    500 ribu ya? wah… mahal amat mas

  5. Necky mengatakan:

    kalau gitu beli tiket ajauntuk pulang mas…terus potong rambut deh di Indonesia…..hehehehehe

  6. Beni Suryadi mengatakan:

    dulu sering disebutnya Gondrong Dangdut.😀

  7. Gift mengatakan:

    Q suka cowok rambut gondrong😀

  8. ebiet mengatakan:

    z juga pernah gondrong
    mlahan lbih ercya diri lagi
    di balik laki2 gondrong itu tersimpan jiwa revolusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: