Tamuku Bernama Muhammad

Masa kecil kuhabiskan tanpa melalui pendidikan pre-school. Tak pernah mengenal ramainya suasana Taman Kanak-kanak (TK). Tapi tak ada penyesalan selama ini, masa kecil tetap ku habiskan dengan menyenangkan. Karena kawan sepermainanku di kampung juga tak pernah menikmati jenjang sekolah TK. Kami tetap bergembira sebagaimana anak-anak kecil lainnya. Memainkan lempung di sawah, batang pisang, atau ranting bambu dan menikmati kotornya air di selokan irigasi. Permainan itu bergantung pada musim, bulan ini musim layang-layang, mungkin bulan depan musim permainan pistol-pistolan dari ranting bambu atau mobil-mobilan dari sandal jepit bekas.

Dulu waktu terasa sangat lama, tiada hari tanpa menikmati permainan bersama kawan, entah itu pagi, siang ataupun sore hari. Salah satu kawan permainanku bernama Muhammad Ghozali, kami memanggilnya Muhammad, nama yang indah. Rumahnya hanya terpaut beberapa jengkal dari rumahku. Kami berkawan dari kecil, tak hanya di rumah, tapi juga di sekolah karena memang kami sepantaran dan sekelas. Kemampuannya berhitung di atas kemampuanku; sedari sebelum sekolah dia sudah mampu melakukan perhitungan dengan baik, jauh lebih baik dariku.

Kehebatan Muhammad sayangnya tidak diikuti oleh nasib baik. Ibunya meninggal ketika usia kami baru beranjak 8 tahun. Penyakit TBC yang didera bertahun-tahun tak lagi mampu ditahan oleh tubuh Ibunya. Seiring dengan kepergian Ibunya, nasib Muhammad semakin suram. Di penghujung orde baru, yang didahului oleh krisis moneter membuat Ayahnya harus angkat kaki dari pekerjannya sebagai karyawan pabrik kayu lapis di daerah kami, saat itu kami baru saja lulus SD. Dia melanjutkan SMP yg berbeda denganku, SMP favorit di kecamatan seberang. Sedangkan Ayahnya, menikah lagi dan beralih menjadi tukang becak atau terkadang melakoni pekerjaan serabutan lainnya.

Lepas SMP dia tak melanjutkan sekolah lagi, sedangkan aku terus melaju menyelesaikan pendidikan formalku. Selepas aku di Jogja, kami jarang berkomunikasi lagi, aku hanya bertemu dan berbicara dengannya sepatah dua patah kata saat pulang kampung. Komunikasiku dengannya hampir dibilang nol saat aku merantau ke Bangkok. Yang aku dengar dari orang lain tentang dirinya adalah dia hanya tinggal di rumah saja dan berteman dengan anak-anak kecil di kampungku.

Dua tahun lalu, saat aku pulang. Aku tak melihat dirinya lewat di depan halaman rumahku, atau melihat dirinya bermain dengan anak-anak di kampung. Ku tanyakan pada Ibuku, di mana Muhammad berada. Ibuku menjawab “Muhammad telah pergi dari rumahnya, dia juga telah pergi dari kampung kita“. Aku diam tak mengerti, “Dia pergi meninggalkan kita semua, kembali ke pangkuan yang Maha Kuasa” lanjut Ibuku. Ah, aku tak percaya dengan semua itu, kawan sepermainanku telah kembali ke pangkuanNya selama-lamanya di umur yang terlalu muda. Ternyata selama ini Muhammad mengidap berbagai penyakit, termasuk TBC, seperti yang diderita oleh Ibunya dulu.

Beberapa hari ini tidurku nyenyak sekali, bunga mimpi kali ini mengantarku ke kenangan manis di masa kecil. Bermain lempung di sawah, bermain petak umpet dan sebagainya. Semua teman masa kecilku hadir, tapi satu yang membuat istimewa, yakni kehadiran Muhammad. Dua kali mimpiku hadir ke masa kecil, dua kali pula Muhammad menjadi tamu mimpiku. Setiap aku terbangun dari mimpi itu, kuucapkan ahlan wa sahlan ya Muhammad, semoga kebahagian yang hakiki telah kau dapatkan di sana, doaku selalu bersamamu kawan.

8 Balasan ke Tamuku Bernama Muhammad

  1. monda mengatakan:

    Kenangan masa kecil selalu indah dikenang. Ikut berduka atas kepulangan Muhammad.

  2. lia mengatakan:

    Tamu mimpiku bbrp hr kmrn namanya juga Muhammad

  3. ningyung mengatakan:

    ceritanya bagus🙂

  4. kakak mengatakan:

    Teman masa kecil memang sangat berkesan dan selalu akan dikenang sepanjang hidup. Takkan pernah dapat terlupa apa yg pernah dilalui bersama… Tetap tersimpan dihati… walau jarak dan waktu memisahkan… adeku…

  5. devitrie mengatakan:

    Ceritanya bikin terharu Er.. Semoga Muhammad beristirahat dgn tenang di sisi-Nya. Buat Muhammad yg ini, terus semangat meraih mimpi.

  6. iwan mengatakan:

    Semoga “Muhammad” yang lain mampu mewujudkan semua mimpinya sebagai penghargaan dan penghormatan bagi “Muhammad” yang telah berlalu… AMIN

    Semangat R…

  7. saifurroyya mengatakan:

    Sebuah kenangan indah yang tak terlupakan…kampung kaliwungunya mana mas?

  8. erywijaya mengatakan:

    @Saifurroya: Plantaran mas😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: