Antara Ketertiban dan Ketidakteraturan

Bukan lagi rahasia umum, kalau orang Indonesia senang menghabiskan liburan di berbagai kota di negara tetangga yang lebih rapih dan bagus dari Indonesia, taruhlah ke Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Hongkong, Macau atau bahkan ke Australia. Beberapa orang berduit bahkan lebih suka menghabiskan liburan ke Jepang, Amerika atau ke belahan negara Eropa Barat. Naiknya pertumbuhan industri penerbangan low-cost carrier semakin membuka peluang orang Indonesia di kelas menengah untuk menikmati suasana yang berbeda dari apa yang biasa kita nikmati di dalam negeri.

Rindu Ketertiban

Sebenarnya apakah yang banyak dicari oleh orang Indonesia ketika pergi ke negara lain? salah satu sensasi yang ingin dicari adalah suasana tertib di negara orang dan tidak bisa kita temukan di negeri sendiri. Tengoklah di Singapura atau Jepang, sepanjang jalan tak akan tampak sampah yang berserakan, tak ada orang menyeberang jalan sembarangan, tak ada juga kemacetan dan bunyi klakson mobil yang bersaut-sautan, trotoar sangat lebar dan ramah bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda. Semua orang tampak tertib dan patuh pada aturan yang berlaku, sehingga orang Indonesia merasa nyaman dengan suasana yang sebenarnya mereka idam-idamkan terwujud di Indonesia. Apa yang terjadi di Singapura hari ini adalah hasil dari jalan panjang mereka untuk menertibkan perilaku warganya dan memberikan edukasi gaya hidup yang baik dan tertib, sehingga semua orang merasa nyaman, tenang, dan nyaman hidup dalam harmoni ketertiban.

Rindu Ketidakteraturan

Sudah beberapa waktu ini saya terkejut dengan rencana kawan-kawan di Lab berlibur mengunjungi berbagai negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan bahkan ke negara-negara  Amerika Selatan (Peru, Ekuador, Kolombia, dll) atau Afrika. Bagi saya ini hal yang aneh ketika saya tanyakan alasan mereka memilih berlibur ke negara-negara seperti itu yang jauh dari kata tertib dan nyaman! ternyata di luar alasan ekonomi (murah), ada satu alasan penting bagi mereka; yakni ketidakteraturan! Alasan ini tidak mengada-ada, mereka menikmati bisa menyeberang jalan sembarangan, menikmati bisa membuang sampah sembarangan tanpa harus perlu repot-repot mencari kotak sampah, menikmati bisa menghentikan bis di mana saja suka-suka mereka tanpa perlu berjalan ke halte bis terlebih dahulu (alias sepanjang jalan adalah halte bis!)

Dalam sebuah acara televisi di Jepang, dikirimlah dua anak muda Jepang (laki-laki dan wanita) ke Indonesia.  Mereka di kirim ke Jakarta (wanita) untuk tinggal di salah satu keluarga agar bisa menikmati situasi dan gaya hidup orang Jakarta, sedangkan yang laki-laki di kirim ke Bali untuk menikmati gaya hidup orang Bali. Ada banyak kejadian lucu dan mengasikkan bagi orang Jepang, yang sebenarnya adalah hal yang biasa dan bahkan membosankan bagi orang Indonesia, seperti: kemacetan di jalan yang mengular panjang dan deretan sepeda motor yang merangsek kemacetan, suasana KRL Jakarta yang berdesak-desakan dengan penumpang yang bergantungan dipintu dan juga duduk di atas atap gerbong, dan juga berbagai jajanan anak-anak yang berwarna-warni.

Ternyata ketertiban yang anak-anak muda Jepang rasakan sejak lahir hingga menginjak dewasa membuat mereka merasa bosan; tidak ada kenakalaan atau tidak pernah merasakan sensasi yang berbeda. Kebiasaan hidup teratur, lingkungan yang bersih, selalu patuh pada aturan, dan segala fasilitas kenyamanan yang memanjakan hidup terasa hambar dan tidak lagi dinamis.

Note: Ada 3 video berseri kisah dua pemuda Jepang di Indonesia

4 Balasan ke Antara Ketertiban dan Ketidakteraturan

  1. Atika Luthfiyyah mengatakan:

    hahahhaa…
    ada2 aja nih orang. apa nggak stress ya mereka ke Indonesia.😀

  2. Marchei Riendra mengatakan:

    hehehe..
    kemaren saya baru dapet oleh2 cerita dr teman saya yg hbs nonton konser di Singapura.
    Walau artisnya sama, tp di Singapura lebih tertib. Di Indo, udh bkn hal aneh klo ntn d kelas festival pst kedorong2 bhkn keinjek, tp kl di Singapur, kls festival bhkn bs du2k. tertib banget.
    Nikmatin bgt performance artis, bkn sibuk jerit2 histeris spnjang konser, dan yg bkn ngiri mrka bwa ipad utk nunjukin kecintaan sama artis sedangkan fans indo bwa spanduk & banner gede2.
    hehehe…

  3. sopyanharis mengatakan:

    Rindu Ketertiban dan Rindu Ketidaktertiban. Sebuah ulasan sederhana yang cukup mengena.

    Suasana itu tidak tersadari oleh masing-masing ketika tidak ada pembanding. Ngga usahlah jauh-jauh membuat analogi. Coba lihat kost-kostan mahasiswa cowok di Indonesia, hampir selalu kondisinya bau keringet, semrawut dan kotor. Tetapi sang penghuni merasa “enjoy” saja dengan kondisi itu. Dia ngga sadar kalo kondisinya seperti “kapal pecah”.

  4. iwan mengatakan:

    Saya mau tambahkan, kami rindu akan kedisiplinan org2 nya terutama yg dibidang pemerintahan nya, serta jiwa samurai dari jepang dimana mereka malu atau akan mengundurkan diri apabila melakukan kesalahan baik pribadi atau instansi terkait nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: