Sisi Lain Seorang Mahasiswa Perantau….

Menjadi mahasiswa, terutama menjadi mahasiswa perantau, memberikan banyak pelajaran. Yang jelas dan utama, tentu memperoleh ilmu pengetahuan. Selanjutnya, juga memperoleh jaringan pertemanan dan persahabatan dengan sesama mahasiswa baik orang lokal maupun perantau. Bagi yang tertarik dengan bahasa dan kultur, tentu juga bisa mempelajari bahasa dan kultur asli tempat tersebut. Selain itu, tentu akan memperoleh pengalaman dan pelajaran skill untuk hidup mandiri. Nah, kalau bagi saya, merantau adalah saat yang tepat untuk mengasah kemampuan dan hobi saya dalam memasak masakan rumahan khas Jawa.

Dilahirkan dengan lidah dan perut sebagai orang Jawa tulen, tubuh saya tidak mudah menerima masakan dengan rasa asing. Seandainya cocok di lidah, belum tentu cocok di perut (bikin sakit perut dan mencret-red), dan begitu pula sebaliknya. Orang lain bilang, lidah dan perut saya ini ndeso. Tapi saya tak pernah mengelak dikatakan ndeso, karena memang saya berasal dari kampung dan desa. Kebiasaan tradisi di keluarga sejak kecil mengajarkan saya untuk hampir selalu makan masakan Ibu, dan jarang makan di luar rumah. Kalau orang tua saya bilang makan di luar rumah itu ngiras, gaya hidup boros.

Lahir di tengah para laki-laki dan hanya satu wanita (Ibu), dan dibesarkan oleh orang tua tanpa pembantu membuat saya agak cekatan untuk mengerjakan berbagai kegiatan rumah tangga untuk merungankan pekerjaan orang tua; mengepel, mencuci dan bahkan membantu memasak menjadi skill dasar yang saya peroleh dari rumah. Alah bisa karena biasa, dari sekedar membantu mengupas bawang, memotong sayuran hingga menyelesaikan masakan akhirnya saya kuasai secara perlahan tapi pasti.

Merantau, menjadikan saya semakin lihai mengembangkan skill-skill dasar yang saya pelajari dari rumah, terutama skill memasak. Hal ini didukung oleh lidah dan perut saya yang ndeso abis. Selalu “memaksa” saya untuk melakukan praktek memasak ala masakan di rumah, agar tetap bisa “hidup” dan tidak mudah mencret karena penolakan perut terhadap masakan “aneh”. Hampir tiap hari saya memasak, dengan menu yang bervariasi sesuai dengan nafsu makan saya saat itu. Soal rasa dari masakan yang saya hasilkan, jangan ditanya…tentu akan saya jawab dengan isyarat jempol. Tapi belum tentu nikmat bagi orang lain hehehe. Berikut contoh foto hasil masakan saya.

Mie Ayam

Nasi Goreng

Oseng Bakso

Oseng Telur

18 Balasan ke Sisi Lain Seorang Mahasiswa Perantau….

  1. marsudiyanto mengatakan:

    pinter masak jebule

  2. monda mengatakan:

    untung bumbu2nya lengkap di sana ya…

  3. erywijaya mengatakan:

    @Pak Mars: hehehe iya Pak, alhamdulillah bisa masak
    @Bu Monda: Kebetulan ada beberapa toko online yang jual bumbu2 masakan Asia tenggara.

  4. Necky mengatakan:

    mantapppppp…ternyata mas erry jago masak juga rupanya yah??

  5. orriza mengatakan:

    Ikut Master chef bro…

  6. anonymous mengatakan:

    kayak apa yah rasa masakan mas ery?? penasaran T.T

  7. Atika Luthfiyyah mengatakan:

    ckckckck….aku kalah rek

  8. ardiawati170483 mengatakan:

    aku kok dimasake mi instan thok le???😀

  9. ardiawati170483 mengatakan:

    pengen mie ayame janeee.. hehe…

  10. Masyhury mengatakan:

    Enak-enak…
    skil memasak memang paling dibutuhkan kalau merantau.
    beruntung saya juga sudah terbiasa memasak waktu sekolah, sekarang jadi anak perantauan tidak masalah..🙂

  11. nfires mengatakan:

    bener banget… merantau akan membuat kita smakin mandiri… btw, ane juga seorang perantau…😀

    salam kenal

  12. devitrie mengatakan:

    piringnya lucu…motifnya..hehe

  13. Marchei Riendra mengatakan:

    Mie ayamnya kayaknya enaaaak..

    hmm yumii… jadi mahasiswa perantau memang harus atau ‘terpaksa’ bisa masak. hehehe

    Semoga betah di negeri sakura sono…
    Jangan lupa oleh2nya kalau pulang ke tanah air, hehehe

  14. Yayu mengatakan:

    Serba mandiri,, serba bisa dan jadi luar biasa…:)

    Mantabs

  15. edratna mengatakan:

    Wahh saya kalah dong…masak nya pakai tunjuk jari..hihihi…
    dulu masak kalau si mbak cuti Lebaran, pulang kampung….
    Sekarang? makin males..karena banyak delivery order apalagi yang makan cuma berdua.

  16. obat vitalitas mengatakan:

    waw makanannya menggiurkan sekali, inget waktu kuliah mau makan aja pake ngutang2..hehe pindah warung sana sini…
    wasalam obat vitalitas cekidot😀

  17. Sakantira mengatakan:

    wawww… keren.. mau dung dimasakin mas ery.. masakannya menggiurkan.. sluuurp..

  18. chachazahara mengatakan:

    Hehehe…saya jg mahasiswa perantau tp kok gbs masak jg yah🙂 Kalah sama Mas Ery neh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: